SLEMAN – Masih dalam rangkaian silaturahmi sesama profesi advokat, APPBJI DIJ menggelar sarasehan dan malam keakraban sesama profesi hukum. Kegiatan digelar di Hotel Wisma Aji, Sabtu (18/2). Sarasehan tersebutmengupas tentang organisasi profesi dan profesi kekhususan, sebagaimana diamanatkan pasal 3 ayat (2) UU Advokat. Yaitu bertujuan untuk membuat gerak langkah organisasi advokat kaya dengan kegiatan-kegiatan yang positif

Ketua panitia kegiatan tersebut, Bedi S Alfahmi mengatakan,para advokat diharapkan bisa menyadari dan memaknai arti organisasi profesi dan memahami bahwa profesi advokat itu bisa melakukan pratik menjadi pengacara spesialis atau khusus bidang tertentu. “Harapannya agar mengetahui kondisi organisasi advokat kekinian, dan dapat membentuk kegiatan-kegiatan atas nama organisasi guna merajut kebersamaan,” ujarnya.

Dewan Penasihat APPBJI DIJRomi Habie, S.H mengulas arti dan makna organisasi, serta mengupas pentingnya rasa peduli dan kebersamaan dalam berorganisasi dan hubungan sosial sesama rekan sejawat. Menurutnya akhir-akhir ini seringkali seorang advokat yang seharusnya membela masyarakat sebagai warga negara malah duduk di kursi pesakitan. “Sehingga perlu ada pembahasan khusus terhadap integritas dan dedikasi bagi profesi advokat ini yang sudah terjadi dagradasi,” paparnya.

Sementara advokat Jamaslin James Purba, S.H., M.H. selaku Ketua DPC PERADI Jakarta Pusat dan Ketua Umum Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia (AKPI) di Indonesia memaparkan tentang pentingnya sebuah sertifikasi profesi serta profesi kekhususan. Seperti pengacara kepailitan atas perusahaan sebagai Kurator, Pengacara Konsultan Hukum dan Pasar Modal, pengacara Pajak, dan lain sebagainya. “Seorang advokat sudah seharusnya mengonsentrasikan diri pada bidang-bidang tertentu yang bersifat kekhususan sebagaimana diamanatkan pada pasal 3 ayat (2) UU No.18 tahun 2013 tentang Advokat,” jelasnya.

Ketua IKADIN SoloDr. Muhammad Taufiq, S.H., M.H., membahas tentang hukum dari aspek pengetahuan akademis dan empiris. Yaitu penekanannya pada advokat harus selalu memperkaya khasanah keilmuannya. Sebab semakin banyak menangani perkara akan semakin menyadari akan semakin kebutuhan terhadap pengetahuan hukum itu. “Namun tetap mengembalikan ruh hukum itu sendiri pada nilai filosofinya yakni hukum untuk manusia bukan manusia untuk hukum dengan menggunakan teori hukum progresif dicetuskan oleh Prof Satjipto Rahardjo,S.H,” ungkap pria yang juga pengajar diUniversitas Negeri Surakarta tersebut.

Sebagai pembicara terakhir, Kordinator Wilayah PERADI DIJ H. Deddy Suwady S.R, S.H memaparkan tentang perlu adanya sinergisitas antara organisasi profesi dengan pemerintah baik eksekutif dan legislatif. Karena Indonesia adalah negara hukum, sehingga semuanya harus berlandaskan regulasi yang diterbitkan dari pemerintah.

Acara sarasehan ini dipandu advokat Bedi Setiawan Al Fahmi, S.H., M.Kn itu berlangsung hangat dan gayeng. Iaterus menggali dan mendalami kalimat yang disampaikan oleh para pembicara. Ada kesamaan secara substantib apa yang disampaikan para pembicara. Yakni sama-sama berharap agar acara merajut silaturrahmi yang diprakarsai oleh DPW APPBJI DIJ ini bukanlah kegiatan acara yang terakhir. Melainkan hanya sebagai embrio adanya event-event yang lebih besar lagi.

Dalam sepak bola antar advokat dengan mengadakan turnamen Justitia Cup untuk seluruh advokat Peradi di Indonesia, dan akan dilakukan acara-acara serupa di waktu yang akan datang. “Sangat penting pengkaderan dalam sebuah organisasi termasuk organisasi Peradi,” terangnya.

Acara ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama, kemudian semua hanyut dalam kegembiraan dengan spontanitas satu persatu advokat menunjukkan kebolehannya dalam olah suara yang diiringi organ tunggal dari Hotel Wisma Aji. (*/riz/din/mg2)

Sleman