RADARJOGJA.CO.ID – SLEMAN – Sebelum melatih PSS Sleman, Freddy Muli dikenal sebagai pelatih bertangan dingin. Pemain ditempa dengan gaya melatih keras dan disiplin oleh pelatih asal Palopo, Sulawesi Selatan itu. Kali ini, Kito Chandra dkk mulai merasakan gaya melatih pria yang membawa Persebaya Surabaya juara divisi I tahun 2006 itu.

Dalam latihan sore di Lapangan Plosokuning Minomartani, kemarin(20/2) tim berlatih skema crossing baik dari sisi kanan maupun kiri. Beberapa pemain seperti Revi Agung dan Imam Bagus memang berhasil mengirim umpan bagus ke kotak penalti. Namun banyak yang di bawah harapan. Mantan arsitek Persik Kediri dan Persidafon Dafonsoro itu bahkan harus mencontohkan sendiri menendang bola crossing. “Bagaimana bisa topskor, kalau suplai crossing tidak bagus. Cristian Gonzales itu bisa topskor karena yang kasih umpan bagus-bagus,” ujarnya.

Pemain menurutnya masih perlu diberikan pemahaman dan teknik, posisi kaki, dan posisi bola saat mengirim umpan untuk striker. Pemain sayap dan gelandang maupun fullback perlu lebih halus untuk menyuplai bola bagi para juru gedor. “Masih perlu diperhalus. Tidak gampang dan tidak perlu keras menendangnya tapi teknik harus bagus,” imbuhnya.

Mengapa Don Freddy konsen dengan bola-bola crossing untuk menciptakan peluang di kotak penalti ? Hal itu karena menurutnya, bola-bola udara di kotak penalti mempunyai peluang 50-50 untuk diperebutkan dengan stoper dan bek-bek lawan. Berbeda dengan umpan datar atau terobosan yang lebih potensial bisa diintersep barisan belakang.

Selanjutnya, setelah tersisih dari Piala Presiden, ia juga mulai memberikan porsi latihan fisik pada Busari dkk. Latihan dibagi dalam dua bagian yaitu 60 persen fisik di pagi hari dan 40 teknik dan skill di sore hari. Hal itu juga hasil dari evaluasi pasca Piala Presiden. Yaitu stamina pemain mulai menurun di 15 menit terakhir.”Stamina mereka masih perlu diperbaiki. Lihat saja setelah menit 75 pemain sudah drop. Mereka sudah maksimal, kami tidak bisa memaksakan lagi, hanya kami beri motivasi saja,” bebernya.

Untungnya kondisi tersebut terjadi di turnamen pra-musim. Akan berbeda ceritanya jika hal itu terjadi di kompetisi resmi nanti. Karena itu, sebagai fokus membentuk tim, juga alasan PSS tidak akan ikut serta di Dirgantara Cup akhir Februari mendatang.

“Konsen ke latihan dulu, karena kami perlu pemantapan tim. Perbaikan tim. Karena tim ini dipersiapkan untuk jangka panjang. Kalau kami ikut Dirgantara Cup, kesita lagi 15 hari,” tuturnya.
Ia juga berencana menggenjot fisik pemain di Pantai Parangtritis dan berujicoba di pekan kedua bulan depan. (riz/din/mg1)

Jogja Sport