SLEMAN – Kondisi geografis wilayah Sleman dianggap masih ideal sebagai habitat alami ular. Indikasinya, jarang terjadi kasus ular menyerang manusia atau memasuki permukiman penduduk.

Hanya, mobilisasi hewan melata tersebut akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Maraknya pembangunan fisik ditengarai salah satu penyebabnya.
Kepala Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Jogjakarta Tandya Tjahjana mengatakan, tumbuhnya bangunan-bangunan besar lambat laun bisa menganam ekosistem ular.
“Jika tidak terkontrol, pembangunan akan mengusik habitat alami ular. Inilah yang menyebabkan ular masuk pemukiman warga,” ujarnya dalam sosiliasi penanganan ular di kantor B2P2BPTH kemarin (16/2).
Demi menjaga hewan predator hama tikus di lingkungan persawahan itu Tandya berharap, pemerintah daerah melakukan pengendalian alih fungsi lahan. Sebab, ular bisa berkembang biak dengan baik di kawasan hijau, demi menjaga ketersediaan rantai makanan alami.
Kendati demikian, Tandya tak memungkiri, adanya perubahan kawasan urban tak bisa dihindarkan. Meski pembangunan fisik mulai menggeser habitat alami ular.
“Ini tentu menjadi tanggung jawab kita semua. Jangan sampai pembangunan yang berlebihan mengganggu ekosistem alam. Tidak hanya ular yang terganggu tapi semua,” tuturnya.
Di bagian lain, guna mengantisipasi kasus serangan ular kepada manusia B2P2BPTH membentuk satgas penanganan ular. Itu lantaran kebanyakan orang masih awam dengan penanganan hewan berbisa itu.” Tahunya kalau ketemu (ular) dibunuh, padahal belum tentu tepat. Jadi perlu ada edukasi dan mungkin akan dibentuk satgas,” ujarnya.
Sementara Manajemen Kemoonk Reptile Education (KRE) Nandang Suaedah menilai edukasi tentang ular belum berjalan baik. Inilah yang membuat masyarakat awam tentang penanganan. Kasus serangan ular, didominasi wawasan yang kurang tentang ular.
Dikatakan, tak semua ular berbisa. Tulang tengkorak ular beracun berbentuk segitiga. Ular ini juga memiliki dua taring panjang untuk menyuntikkan bisa.
Menurutnya, kedua jenis ular tersebut tidak memiliki sifat agresif. Ular hanya menyerang jika merasa terancam dan terganggu. Sehingga jika bertemu tidak perlu panik.
“Cukup tenang dan mundur, maka ular tidak agresif,” sarannya. (dwi/yog/mg1)

Sleman