Pengelola akan Gugat ke MK
SLEMAN – Rentetan surat peringatan dan surat teguran dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman akhirnya ditanggapi pengelola The Lost World Castle (TLWC). Terhitung kemarin (13/2), pengelola menghentikan operasional dan pembangunan objek tersebut. Meski begitu pengelola masih berusaha bisa mendapatkan izin operasional.
Saat Radar Jogja mencoba konfirmasi ke pemilik TLWC Ayung, dia enggan berkomentar. Pria berambut gondrong ini justeru mengarahkan pada pengelola dan pengurus lainnya Ahmad Saukani. Nama ini diketahui juga berstatus sebagai warga Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Cangkringan. “Langsung ke petugas lapangan saja kalau tentang itu (surat Peringatan dan tutupnya TLWC, Red),” ujarnya singkat dihubungi melalui sambungan telepon, kemarin (13/2).
Ahmad Syaukani membenarkan adanya penutupan TLWC ini. Hal ini sesuai dengan SP3 yang dikirim Pemkab Sleman. Dengan surat itu, otomatis total kegiatan di bangunan seluas 1,3 hektare tersebut dihentikan.
Namun Ahmad beralasan, penutupan terkait perbaikan manajemen. TLWC, lanjutnya, akan beroperasi kembali jika Bupati Sleman Sri Purnomo membuka objek tersebut. Dia juga memastikan hingga saat ini pihaknya masih terus mengupayakan perizinan bangunan tersebut.
Tak hanya itu, Ahmad bahkan sesumbar akan melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Itu terkait pelarangan kegiatan dan pembangunan di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III. Aturan yang dimaksud adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 70 Tahun 2014 Tentang Tata Ruang Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). “Ya kalau tetap tidak diberi izin kami akan gugat Perpres ke MK. Peraturan tersebut tidak memiliki landasan yang kuat untuk melarang pembangunan objek wisata di KRB III. Padahal selama ini banyak juga objek wisata yang berdiri di kawasan tersebut,” kilahnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman Sumadi mengapresiasi penutupan TLWC. Menurutnya baik pengelola maupun warga kooperatif atas SP yang dikirimkan. Ke depan dirinya meminta investor harus melakukan konsultasi sebelum membangun di Sleman.
Dalam kasus ini, Pemkab Sleman, menurutnya tetap pada sikap tegas. TLWC tidak hanya berhenti dari segi operasional tapi juga pembangunan. Dari segi aturan, bangunan permanen jelas melanggar aturan KRB III.”Ya baguslah, kalau ditutup berarti mereka menghormati peraturan,” tegasnya.
Terkait rencana gugatan ke MK, Sumadi mempersilahkan. Hal itu merupakan hak setiap warga negara. Sehingga gugatan tergolong sah-sah saja sesuai koridor hukum.”Oh silahkan, itu hak mereka. Tapi selama aturannya masih berlaku, kami akan tegakkan,” tegasnya.
Dari pengamatan Radar Jogja, TLWC sudah ditutup. Pintu gerbang terlihat digembok oleh pengelola. Salah seorang pengurus mengatakan penutupan sesuai instruksi Pemkab Sleman.
“Tadi buka khusus untuk pre wedding di sini, sudah booking jauh-jauh hari. Paling untuk umum sudah buka Sabtu atau Minggu besok. Ngeyem-ngeyemi dinas (Pemkab Sleman),” ujarnya. (dwi/din/mg1)

Sleman