SLEMAN – Memasuki pertengahan Februari ini, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sleman terus meningkat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman ada 30 kasus DBD. Jumlah ini sama dengan angka kasus pada Januari lalu.
Kepala Dinkes Sleman Nurulhayah mengungkapkan angka ini masih bisa bertambah. Mengingat puncak musim penghujan berlangsung hingga Maret. Triwulan awal, menurutnya menjadi puncak kasus DBD. “Menghimbau agar warga mengawasi wilayah huniannya dari nyamuk aedes aegepty,” ujarnya kemarin (13/2).
Langkah antisipasi awal dengan pemberantasan sarang nyamuk. Nurul menilai langkah ini paling efektif menangkal DBD. Pemberantasan jentik dapat menghapuskan siklus perkembangbiakan nyamuk.
Berbeda dengan nyamuk pada umumnya Aedes Aegepty justru berkembangbiak diair bersih. Hal ini yang terkadang tidak terawasi oleh warga. Titik-titik air seperti pembuangan air dispenser, vas bunga hingga tandon air justru kurang terpantau.”Di sinilah jadi lahan subur perindukan nyamuk DBD. Warga jangan terlena, agar tidak ada telur nyamuk di titik-titik ini. Paling utama gerakan 3M+,” pesannya.
Foging menurutnya bukan solusi pemberantasan jentik. Langkah ini hanya dilakukan untuk memberantas nyamuk dewasa. Padahal perindukan juga harus memberantas telur dan jentik nyamuk.
Kasus DBD tahun lalu tergolong tidak terprediksi. Penyebabnya curah hujan merata sepanjang tahun. Anomali cuaca ini membuat prediksi puncak DBD tidak berlaku. Sehingga hampir sepanjang tahun terjadi kasus DBD. “Kalau pola normal, Januari hingga Maret naik, lalu April hingga Desember turun. Semoga tahun ini tidak terulang anomali cuacanya,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinkes Sleman, tiga kecamatan di Sleman terdampak besar. Diantaranya Kecamatan Gamping, Godean dan Kecamatan Mlati. Lepas itu, kasus DBD hampir merata di seluruh Kecamatan di Sleman.
Dinkes Sleman juga telah bekerjasama dengan rumah sakit seluruh Jogjakarta. Jika ada pasien warga Sleman dirawat, Dinkes Sleman akan disurati. Tujuannya sebagai tindakan awal antisipasi DBD.”Terkait dengan pemeriksaan hingga penyelidikan epidomologi. Apakah masih ada penderita lain, jika iya maka perlu pengawasan akan lebih fokus,” katanya. (dwi/din/mg1)

Sleman