// Don Freddy Bawa Pemain Simulasi Hadapi Bola Mati//

SLEMAN – Sebelum terjadinya gol Aldino Herdianto di menit 67, pertahanan PSS Sleman dinilai sangat baik. Itu juga termasuk juga dalam pertandingan pertama saat membuat pemain-pemain Persipura Jayapura mati kutu. Pemain Super Elang Jawa-julukan PSS Sleman memeragakan skema compact defense yang sangat ketat di sepertiga daerah sendiri.

Alih-alih melakukan pressing ketat (high pressing) sejak setengah lapangan, pelatih PSS Sleman Freddy Muli justru memilih skema pertahanan klasik. Yaitu bagaimanamenutup ruang gerak pemain lawan dengan mempersempit pergerakkan antarpemain. Saat tim ditekan, para pemain dari lini tengah ikut turun sampai sepertiga daerah sendiri.

Jarak antarpemain dalam melakukan penjagaan menjadi tidak lebih dari tujuh meter. Sementara jarak antarlini, yaitu bek dan gelandang tidak boleh lebih dari 10 meter. Selanjutnya para pemain mempertahankan jarak ini dan mengikuti arah bola yang dimainkan lawan. Jika sudah mulai masuk kotak penalti, para pemain bertahan dan gelandang akan lebih memperpendek jarak. Praktis seperti memarkir Transjogja di depan mulut gawang. Pemain sekelas Boaz Solossa dan Robertino Pugliara dibuat frustrasi.

Dalam menerapkan compact defense, agar pemain bisa bergerak serempak, dibutuhkan kekompakan. Tanpa kekompakan, semua tidak akan bisa berjalan. Satu saja pemain tidak disiplin dengan prinsip ini, sudah pasti strategi ini tidak akan bisa berjalan. “Saat melawan Mitra Kukar kemarin pola pertahanan melemah karena pemain melakukan tekel yang tidak perlu. Seharusnya memperlambat pergerakan bola sehingga tidak terjadi bola mati,” ujar Freddy terkait skema pertahanan gerendelnya itu.

Fokus pemain saat menghadapi bola mati buyar. Karena dihadapkan pada siapa menjaga siapa dan bergerak kemana. Di samping koordinasi dan fokus pemain menjadi menurun terutama setelah Mitra Kukar memperkecil margin skor. “Pemain dalam antisipasi bola mati ini masih sangat lemah. Konsep pertahanan yang sudah dibangun di sepertiga lapangan jadi sedikit terganggu,” papar mantan juru taktik Persebaya Surabaya itu.

Selanjutnya untuk menghadapi Persegres di partai terakhir di Grup 1, kondisi tersebut akan coba diperbaiki. Yaitu memberikan pemahaman kepada pemain bagaimana skema bertahan lebih baik, termasuk juga mengantisipasi ketika mendapat bola mati seperti saat melawan Mitra Kukar tersebut. “Besok (hari ini, Red) kami coba berlatih kembali. Biarkan pemain istirahat dan recovery, karena mereka sudah bermain luar biasa sebenarnya,” tuturnya.

Direktur Operasional PT PSS, Rumadi mengungkapkan, terkait hasil dua pertandingan yang sudah dijalani PSS pihaknya mengaku puas. Terutama saat bermain melawan Mitra Kukar. Meskipun harus menunda meraih kemenangan di depan publik sendiri. Karena itu saat ditanyakan mengenai kemungkinan menambah pemain, ia mengaku belum memikirkan hal tersebut. “Dua kiper kami sementara ini sudah cukup baik. Pemain lain lihat setelah Piala Presiden dan melihat kebutuhan tim,” terangnya. (riz/din/mg1)

Jogja Sport