Sampah memiliki nilai ekonomi tersendiri. Besarnya retribusi sampah yang harus dibayarkan, sebagian warga desa Triharjo, Sleman mengelola sampah secara mandiri.

BAHANA – Sleman.

Berbicara soal sampah seolah tidak ada habisnya. Sampah semakin hari semakin bertambah seiring pertambahan populasi penduduk, sementara tempat pembuangan, pertumbuhannya stagnan. Melihat kondisi tersebut, warga Dusun Temulawak, Triharjo Sleman memutuskan untuk mengelola sampah mereka secara mandiri. Dari sampah-sampah yang dipililah tersebut menghasilkan pupuk kompos dan barang daur ulang yang bisa di jual.

Adalah kelompok pengelola sampah mandiri (KPSM) Atras. Sejak didirikan 2008 silam, keberadaan KPSM Atras masih tetap eksis hingga sekarang. Meskipun, pengelolanya selalu menyusut dari tahun ke tahun.

“Awalnya ada sepuluh orang pengelola, namun sekarang hanya tinggal enam orang,” kata Ketua BUMDes KPSM Atras, Sigit Purwanto ditemui di pengelolaan KPSM Mandiri baru-baru ini.

Mengelola sampah mandiri, memang bukan hal prestise. Hasilnya pun tidak sebesar yang diharapkan. Menurut Sigit, penghasilan dari mengelola sampah bersih sekitar Rp 7 juta per bulan. Dari penghasilan tersebut masih harus digunakan untuk membantu pendidikan anak usia dini di Desa Triharjo.

“Dari hasil yang apa adanya ini kami tetap memberdayakan masyarakat,” jelasnya.

Sigit menuturkan, awal pembentukan KPSM ini secara swadaya oleh masyarakat. Ketika itu, sampah diambil oleh Dinas Pekerjaan Umum. Namun lambat laun retribusi naik, sehingga pihak desa untuk mengelola sampah mandiri.

Dia menjelaskan per minggu, kurang lebih 600 kilogram sampah dikelola dari sekitar 1.100 kk di Triharjo. Setelah sampah-sampah ditampung, petugas akan memilah dan memilih sampah organik dan anorganik. Keberadaan sampah organik hanya 15 persen saja dari yang terkumpul.

“Dari sampah organik inilah nantinya menjadi kompos.Sementara sampah anorganik dijual kembali,” paparnya.

Dijelaskan, proses pengelolaan sampah untuk menjadi kompos memerlukan waktu sekitar 1,5 bulan. Sampah organik yang telah dipilah diletakkan di sebuat tempat berbentuk segitiga memanjang bernama open windro. Alat ini berguna untuk mamatangkan sampah melalui proses alami, untuk kemudian sampah dicacah dan dipak.

Setiap bulan, jelasnya, KPSM menghasilkan sekitar 200 kilogram kompos.

“Setiap kilogram Rp 500 kalau dipakai kelompok sendiri. Kalau dijual keluar bisa mencapai Rp 1000 perkilo,” tandasnya.***

Boks