DWI AGUS/Radar Jogja
KETUA BARU: Dokter Joko Hastaryo M.Kes (kanan) menjadi Ketua IDI Sleman periode mendatang. Nampak dia bersama Kepala Dinkes Sleman Mafilindari Nuraini (tengah).
SLEMAN – Dokter Joko Hastaryo M.Kes terpilih sebagai Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sleman dalam Musyawarah Cabang, Sabtu lalu (16/4). Dia mengungguli tiga kandidat lainnya berdasarkan pemungutan suara yang dilakukan di Indoluxe Hotel. Pascaterpilih, Direktur RSUD Sleman ini menjelaskan tantangan dokter ke depan.

“Banyak tantangan yang menghadang ke depannya. Tantangan mulai dari diri sendiri, hingga sistem yang berlaku saat ini. IDI Sleman siap membekali anggota. Tetaplah teguh dalam memegang komitmen. Terutama menjaga sumpah profesi ketika dinobatkan sebagai dokter,” katanya.

Untuk menjaga sumpah profesi, lanjutnya, komitmen wajib dijaga oleh setiap dokter. Bekerja secara professional tapi tetap mengembangkan diri. Paling utama adalah menjaga attitude sebagai seorang dokter.

Selain itu, yambahnya, dokter juga wajib memperdalam pengetahuan dan kemampuan dirinya. Tidak hanya berhenti pada satu titik tapi terus belajar. Inipula yang ada dalam sumpah profesi yang diucapkan oleh setiap dokter.

“Ada Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan yang bisa diikuti oleh dokter untuk memperdalam wawasan. Terkait sumpah dokter tentu harus melayani manusia tanpa memandang latar belakang,” tegasnya.

Dalam muscab ini juga dibahas berbagai permasalahan yang ada di lapangan. Seperti kendala BPJS yang kerap memposisikan dokter dalam stigma negatif. Kasus yang kerap ditemui adalah pasien BPJS terkendala pelayanan.

Adanya hal itu, Ketua Muscab dr Rino RusdionoSp.Rad berharap muscab ini bisa mencari jalan keluar dari permasalahan-permasalahan yang ada. Menurutnya, kendala utama justru muncul dari dari sistem yang membungkus fasilitas BPJS.

“Sistem yang dipakai untuk BPJS masih terbilang baru. Rumah sakit di Sleman terutama yang besar sudah support BPJS. Kadang ada kasus menolak, padahal bukan. Ini karena fasilitas rumah sakit kadang tak memenuhi,” paparnya.

Pengurus IDI Sleman tahun sebelumnya, dr Desi Arijadi berharap agar sistem ini diperbaharui. Dokter menurutnya pun siap jika sistem yang digunakan sudah berjalan optimal. Dengan terpilihnya pengurus baru IDI Sleman dapat menjawab tantangan ini.

“Kita (dokter-dokter) sudah sangat siap dengan adanya BPJS. Hanya saja memang kendala di sistem. Kita ingin pasien nyaman, dokter nyaman, pemerintah yang menggalang program ini juga tercapai,” harapnya. (dwi/dem)
Dalam muscab ini juga dibahas berbagai permasalahan yang ditemui. Seperti kendala BPJS yang kerap menstigma negatif dokter. Kasus yang kerap ditemui adalah pasien BPJS terkendala pelayanan.

Pengurus IDI Sleman tahun sebelumnya, dr. Desi Arijadi berharap agar sstem BPJS bisa diperbaharui. Dokter menurutnya pun siap jika sistem yang digunakan sudah berjalan optimal. Dengan terpilihnya pengurus baru IDI Sleman dapat menjawab tantangan ini.

“Kita (dokter-dokter) sudah sangat siap dengan adanya BPJS. Hanya saja memang kendala di sistem. Kita ingin pasien nyaman, dokter nyaman, pemerintah yang menggalang program ini juga tercapai,” harapnya. (dwi/dem)

Sleman