SETIYAKI
SLEMAN – Pemerintah mulai merevitalisasi bangunan talud Kali Code yang ambrol pada Selasa (5/4), akibat terkikis air sungai selama lebih dari lima tahun.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Julisetiono Dwi Wasito, untuk perbaikan talud telah disiapkan sekitar seribu kantong pasir dan 60 bronjong kawat. “Ini untuk mencegah talud kembali longsor,” katanya kemarin (11/4).

Guna mengantisipasi dampak risiko lanjutan akibat talud ambrol, BPBD juga memasang sebuah perangkat early warning system (EWS). Dengan begitu, jika terjadi pergerakan tanah, warga bisa segera mengungsi ke tempat aman setelah mendengar sinyal dari EWS.

Sementara, langkah awal revitalisasi talud, pemerintah mengerahkan alat berat backhoe untuk mengeruk endapan pasir. Sedimen tersebut dibentuk semacam bendungan untuk mengalihkan arus air di titik lokasi perbaikan.

Warga bantaran Kali Code RT 10/RW 56, Sendowo, Sinduadi, Mlati membantu petugas dengan mengisi batu pada bronjong yang disediakan BPBD.

“Yang terpenting talud tidak terkikis oleh aliran. Sebab saat ini intensitas hujan masih cukup tinggi sehingga bila ada aliran deras rawan terkikis,” jelas Ketua RT 10 Sarijan.

Menurutnya, kegiatan revitalisasi bangunan talud tersebut tak membebani warga. Tidak ada pungutan oleh pemerintah. Baik untuk pengadaan material maupun dapur umum. Warga hanya diminta gotong royong membantu relawan BPBD.

Dapur umum melayani warga yang gotong royong dan 26 orang pengungsi. Mereka mengungsi karena tanah di bawah rumah hunian turut amblas seiring ambrolnya talud sepanjang sekitar 30 meter itu. “Semua dari pemerintah,” ungkapnya.

Sarijan berharap talud segera selesai diperbaiki, sehingga warga bisa beraktivitas normal seperti sediakala. Sebab, talud ambrol juga mengakibatkan jalan kampung amblas. Selama ini, warga tak berani melintas di jalan selebar sekitar tiga meter itu. Dan harus memutar melewati jalan lain yang lebih jauh untuk sampai ke jalan raya. (bhn/yog)

Sleman