ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
MENGGANGGU: Sendimen di selokan di sebelah timur SDN Timbulharjo mulai dibersihkan. Langkah itu dilakukan menyusul meluapnya selokan saat hujan deras. Selain ruas jalan, luapan air juga menggenangi SDN Timbulharjo. Di atas selokan tampak beberapa bangunan lapak liar
BANTUL – Keberadaan lapak-lapak yang tersebar di beberapa titik di Jalan Parangtritis mulai keluhkan. Selain ilegal, bangunan semi permanen tersebut berdiri di atas selokan. Dampak nyatanya adalah fungsi dasar selokan terganggu. Tak jarang saat musim penghujan air selokan meluap hingga menggenangi ruas jalan dan bangunan di sekitarnya. Seperti beberapa lapak di samping timur SDN Timbulharjo, Sewon.

Heri Triyanto warga Dadapan Kidul, Timbulharjo, Sewon mengungkapkan, meluapnya air selokan di timur SDN Timbulharjo tidak hanya terjadi saat musim hujan kali ini saja. Kejadian serupa sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Itu menyusul berdirinya lapak-lapak liar di atas selokan.

“SD Timbulharjo sering kebanjiran. Bahkan, airnya sampai di bawah lutut. Jalan Parangtritis juga mirip laut,” keluh Heri, kemarin (6/4).

Keberadaan lapak-lapak ini tidak hanya mengganggu kelancaran aliran selokan. Namun, juga menimbulkan permasalahan sosial.

Menurutnya, mayoritas lapak memang didesain semi permanen dengan model tertutup. Tetapi, ada pula dengan model terbuka. Lapak ini hanya dimanfaatkan pemiliknya membuka warung makanan saat siang hari. Malam harinya dibiarkan kosong. Kondisi inilah kemudian dimanfaatkan beberapa remaja berbuat mesum. “Warga sepakat jika lapak-lapak ini ditertibkan. Toh, bukan warga sini,” ujarnya.

Heri juga tak menutup mata banyak bangunan serupa di beberapa titik di Jalan Parangtritis. Sebagai warga Bantul, dia berharap pemkab serius menanganinya. Apalagi, Jalan Parangtritis salah satu jalan utama yang kerap dilalui wisatawan. “Sebagai etalase seharusnya bersih, rapi, dan tertata,” harapnya.

Kepala Dukuh Dadapan Riyanto menuturkan, lapak-lapak liar berdiri di atas tanah kas desa Timbulharjo. Para pemilik lapak membayar uang sewa kepada kelurahan sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta pertahun. Walaupun pengelolaan tanah kas desa ini sebenarnya berada di tangan SDN Timbulharjo karena satu bagian dengan sekolahan. “Pedukuhan juga nggak pernah diberitahu soal sewa-menyewa ini,” tandasnya.

Dulunya, lokasi berdirinya lapak liar adalah taman mini. Taman ini sering dimanfaatkan siswa SDN Timbulharjo sebagai sarana bermain. Karena itu, Riyanto berharap fungsi tanah kas desa ini dikembalikan seperti semula.

“Karena lapak-lapak ini membuat selokan sulit dibersihkan sehingga ada pendangkalan yang menyebabkan banjir,” bebernya.

Kasatpol PP Bantul Hermawan Setiaji membenarkan banyak bangunan lapak liar berdiri di sepanjang Jalan Parangtritis. Parahnya lagi, berdiri di atas selokan. Dari pantauannya, hal serupa ternyata juga banyak ditemui di sepanjang Jalan Imogiri Barat, dan Jalan Samas. “Pasti kami tertibkan. Tapi, kami akan memberikan sosialisasi dulu,” ucapnya.

Bekas kepala Pengelolaan Kantor Pasar ini menargetkan sosialisasi rampung pada triwulan ketiga. Toh, para pemilik bangunan lapak di sepanjang Jalan Samas telah mendapatkan sosialisasi beberapa waktu lalu. Mereka bersedia membongkar bangunan setelah hari raya Idul Fitri. “April ini sosialisasi di Jalan Imogiri Barat,” jelasnya.

Hermawan mengaku tidak mengetahui persis berapa jumlah bangunan liar ini. Yang pasti jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan.(zam/din/ong)

Sleman