RADAR JOGJA FILE
SLEMAN – Forum Lingkungan Hidup (FLH) Sleman kembali menyuarakan pentingnya menyelamatkan fungsi sungai. Kampanye itu sengaja dilakukan mengingat ancaman kerusakan terhadap fungsi sungai terus saja terjadi.

“Kami lakukan upaya preventif. Kali ini fokus melindungi Sungai Kuning,” kata Ketua FLH Sleman Krido Suprayitno di sela peringatan Hari Air Sedunia, kemarin (22/3).

Menurutnya, tindakan pencegahan itu antara lain dengan mengkampanyekan penguatan tebing sungai dari pembangunan secara sporadis. Dibandingkan beberapa sungai lain yang sama-sama berhulu ke Gunung Merapi, seperti Sungai Code, Winongo, dan Sungai Gajah Wong, kondisi Kali Kuning relatif lebih terjaga.

“Keadaan Sungai Kuning masih lebih baik. Ini aset yang luar biasa,” lanjut mantan Camat Depok ini.

Oleh karena itu, pria yang sehari-hari menjabat kepala Kantor Pengendalian Pertanahan Daerah (KPPD) Sleman ingin pencegahan terhadap kerusakan habitat sungai semakin diintensifkan. Kembali soal penguatan tebing sungai, Krido menilai penting dilakukan. Itu karena di sisi timur Sungai Kuning membelah Desa Widomartani, Ngemplak, Sleman sejak beberapa waktu lalu telah berdiri sejumlah bangunan permanen.

Bila pembangunan fisik terus terjadi, maka ancaman kerusakan terhadap habitat sungai tinggal menunggu waktu. Sebab, pembangunan fisik itu berada tepat di atas daerah aliran sungai (DAS). Melindungi (DAS) di sepanjang Kali Kuning, pria kelahiran Purworejo, 29 Desember 1963 ini mendesak dilakukan. KPPD yang memiliki tugas dan fungsi di bidang pengendalian pertanahan telah melaksanakan upaya tersebut dengan memasang beberapa patok di tebing Sungai Kuning.

“Patok-patok itu dipasang di atas tanah kas desa,” tutur peraih Millinium Development Goals (MDGs). Award 2012 atas kepeduliannya terhadap Sungai Gajah Wong.

Adapun tujuan dipasangnya patok-patok itu sebagai peringatan bahwa tanah-tanah di lokasi tersebut merupakan tanah kas desa. Dengan demikian, siapa pun tidak bisa sembarangan membangun fisik di kawasan DAS Kali Kuning. Mendirikan bangunan fisik di sepanjang DAS Kali Kuning harus mengantongi izin Balai Besar Sungai Opak dan Serayu.

Di bagian lain, sukses melestarikan Sungai Gajah Wong itu membuat Krido diundang Menteri Kimpraswil era Presiden Abdurrahman Wahid, Erna Witoelar ke acara Ciliwung Bersih 2015. Krido diundang karena dinilai berhasil mengedukasi masyarakat melalui program sanitasi dan pengelolaan air bersih di kawasan Sungai Gajah Wong.

Pola edukasi dalam rangka melestarikan fungsi Sungai Kuning juga ditempuh Ketua Komunitas Pelestari Sungai Kuning Irawan. Dia secara terbuka menyesalkan terjadinya pembangunan bangunan fisik untuk home stay di sisi timur Sungai Kuning.

“Kami sampaikan teguran secara edukatif. Penegakan hukum merupakan kewenangan pemerintah. Kami dari komunitas hanya dapat mengingatkan dan menyerukan imbauan moral,” seru Irwan.

Ancaman kerusakan juga muncul oleh maraknya penambangan pasir liar yang secara masif mengeruk tebing Sungai Kuning. Ini mengakibatkan terjadinya longsor dan menutup mata air. “Belum lagi adanya penebangan pohon-pohon penyangga tebing,” ungkapnya.

Menyadari itu, Irawan bersama para penggiat lingkungan lainnya melakukan penyelamatan dengan menanam pohon penyangga air seperti bambu, beringin, dan gayam. Penanaman pohon-pohon itu dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Hari Air Sedunia kemarin. Sejumlah pihak dilibatkan dalam kegiatan itu. Antara lain dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIJ, Pemerintah Desa Wedomartani, Polsek Ngemplak, dan Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Jogjakarta.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran BLH DIJ Agus Setyanto mengapresiasi upaya pelestarian Sungai Kuning tersebut. “Konservasi terhadap Sungai Kuning merupakan kebutuhan,” katanya. (kus/ila/ong)

Jogja Utama