BANTUL – Masih banyaknya pedagang pasar tradisional terjerat rentenir membuat Bupati Bantul Suharsono merasa prihatin. Bagaimana tidak, pedagang kecil yang seharusnya dibantu permodalan justru tercekik leher karena harus membayar bunga tinggi. Demi menjaga roda niaganya tetap berputar.

Ke depan, Suharsono tak ingin praktik rentenir tumbuh subur di kalangan pedagang pasar. Sebab, keberadaan rentenir tak akan membuat pedagang lebih sejahtera. Sebaliknya, para cukong beerkantong tebal itu malah membuat wong cilik semakin melarat. Bukan tidak mungkin, pedagang kecil terancam gulung tikar jika tak mampu mengembalikan utangnya. Bahkan, tak jarang pedagang keberatan untuk sekedar mencicil bunga rentenir.

Nah, untuk mempersempit ruang gerak rentenir, Suharsono meminta peran serta BPR Bank Bantul. Pensiunan polisi itu ingin badan usaha milik daerah (BUMD) Pemkab Bantul ikut mengatasi masalah permodalan pedagang kecil.

“Kasihan. Pedagang tidak bisa maju jika terus-terusan meminjam uang dari rentenir,” ujarnya disela gathering BPR Bank Bantul dengan para pejabat teras dan Forkominda Bumi Projotamansari kemarin (18/3).

Suharsono berharap, Bank Bantul memfasilitasi para pedagang kecil. Dengan pinjaman lunak dan syarat mudah. Ya, selama ini pedagang kecil yang mengalami kendala modal lebih banyak lari kepada rentenir karena dianggap mudah persyaratannya. Bahkan, tak jarang tanpa agunan.

Menurut Suharsono, Bank Bantul bisa mengambil alih peran para pemodal swasta perorangan itu. Caranya, Bank Bantul ikut membantu membuatkan kelompok bagi pedagang yang ingin mengajukan pinjaman. Per kelompok maksimal beranggotakan 10 orang, misalnya. Supaya tidak ribet, setiap kelompok diminta menunjuk seorang ketua yang bertugas mengorganisasi, sekaligus menarik angsuran dari pedagang. Kemudian menyetorkannya ke bank.

“Agar pedagang tertarik, syaratnya harus dipermudah. Prosesnya cepat, sedangkan bunganya sangat ringan,” paparnya.

Direktur Utama BPR Bank Bantul Aristini Sriyatun menyambut positif imbauan bupati. Menurutnya, pedagang pasar tradisional bisa menjadi target market untuk pengembangan sayap usaha perbankan itu. Apalagi, saat ini nasabah terbesar masih didominasi para pegawai negeri sipil di lingkungan Pemkab Bantul. “Selama ini kami berkomitmen untuk membantu pedagang kecil. Itu menjadi bagian dalam program Bank Bantul,” katanya.

Aristini berharap, keterlibatan pedagang pasar tradisional mampu mendongkrak omset lembaganya. Sampai 16 Maret, total aktiva Bank Bantul mencapai Rp 382 miliar.(mar/yog/ong)

Bisnis