BANTUL – Kasus penyakit leptospirosis sudah cukup mengkhawatirkan masyarakat Bantul. Apalagi, lima orang penderitanya meninggal dunia sejak awal 2016. Meskipun secara medis belum diketahui penyebab pasti meninggalnya pasien penyakit yangditularkan melalui kencing tikus tersebut.

Kendati demikian, Pemkab Bantul belum mengategorikan kondisi tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).

“Statusnya baru dinaikkan menjadi KLB kalau trennya naik terus,” jelas
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Maya Sintowati Panji kemarin (11/3). Menurut Maya, hingga pertengahan Maret belum ada tambahan pasien. Tetap 15 penderita. Dia berharap jumlah penderita dan tingkat penularan leptospirosis menurun. Seperti halnya kasus demam berdarah dengue (DBD). Jumlah penderita DBD sempat melonjak awal tahun ini. Dalam kurun Januari-Februari jumlah penderita penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti sebanyak 284 orang. Jumlah tersebut cenderung turun memasuki Maret. Melihat trennya,bukan berarti dua penyakit itu tidak berbahaya. Maya justru mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap potensi penularan leptospirsis dan DBD. Terlebih saat ini masih sering turun hujan. Hujan sering menimbulkan genangan tempatberkembangbiak jentik nyamuk. Sedangkan leptospirosis lebih banyak menulari petani di genangan sawah. Maya mengklaim telah berupaya menekan angka penularan dua penyakit menular tersebut dengan beberapa program. Diantaranya, penyuluhan bersama Dinas Pertanian dan Kehutanan. Fokus utamanya antisipasi penularan penyakit mematikan itu.

Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan Pramudi Darmawan menambahkan bahwa proses audit penyebab kematian lima penderita leptospirosis belum selesai.Mereka tersebar di tiga kecamatan, Bantul, Pandak, dan Pleret. “Kami instruksikan seluruh Puskesmas menyediakan obat antibiotik untuk mencegah leptospirosis,” katanya. (zam/ong)

Sleman