BANTUL – Sebagai lembaga keuangan berbasis kerakyatan, keberadaan koperasi ternyata belum begitu dirasakan manfaatnya bagi warga Bantul. Tak sedikit koperasi justru gulung tikar karena minim peminat. Terbukti, dalam dua bulan terakhir sedikitnya dua koperasi bubar jalan. Itu bukan kali pertama koperasi di wilayah Bantul bubar. Pada 2015, empat koperasi bubar akibat kondisi serupa.

Meskipun ada pertumbuhan lembaga baru sebanyak 14 koperasi, belum menunjukkan gairah dalam pengembangan koperasi.

Saat ini ada sekitar 482 unit koperasi di Kabupaten Bantul. Tapi, tak semua lembaga keuangan itu dalam kondisi sehat. Bahkan, seperempat diantaranya mendekati kolaps. Sebanyak 102 unit. Itu yang menyebabkan koperasi tersebut tak lagi mewajibkan RAT.

Kepala Bidang Koperasi Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul Tri Murdianani membenarkan kondisi itu. Dia menengarai, koperasi bubar karena tak ada rapat anggota tahunan (RAT). Atau akibat unit usahanya tidak berjalan dan tidak adanya regenerasi.

“Ini menunjukkan manajemen koperasi tidak profesional,” katanya kemarin (9/3).

Sebenarnya banyak tahapan yang harus dilalui untuk membubarkan sebuah organisasi koperasi. Ada beberapa tahapan dan persyaratan yang harus dilalui. Salah satunya, tidak ada pinjaman atau tanggungan kepada pihak ke tiga. “Jika sudah tidak memungkinkan diberikan pendampingan, ya, dibubarkan,” jelasnya.

Agar keberadaan koperasi tak semakin terpuruk, Disperindagkop gencar melakukan pendampingan. Terutama bagi koperasi kurang sehat. Pendampingan diutamakan bagi pengurus dan revitalisasi kelembagaan. Dinas juga tak segan menyuntikkan modal untuk mendongkrak roda koperasi.(zam/yog/ong)

Sleman