SLEMAN- Opini wajar tanpa pengecuaian (WTP) atas laporan hasil pemeriksaan keuangan tahun anggaran 2014 oleh Badan Pemeriksa Keuangan ternyata diwarnai penyerapan anggaran yang tidak optimal. Buktinya, besaran memiliki sisa lebih penggunaan anggaran (silpa) APBD 2014 mencapai Rp 499,72 miliar.
Angka yang cukup fantastis itu menunjukkan besarnya alokasi anggaran yang tidak terserap untuk pembangunan. “Itu seharusnya tidak terjadi,” sesal Ketua Fraksi Golkar Prasetyo Budi Utomo kemarin (28/6).
Pras, panggilan akrab politikus asal Prambanan itu menengarai, besarnya silpa terjadi lantaran ketidakcermatan eksekutif dalam membuat perencanaan anggaran.
Menurut dia, dana bisa terserap maksimal jika dialokasikan untuk kegiatan yang bersinggungan langsung dengan masyarakat. Misalnya, untuk pemberdayaan sosial dan ekonomi. Salah satunya, sektor usaha kecil mikro (UKM).
Pras menilai ada keterlambatan eksekusi pembangunan yang dananya telah dianggarkan di APBD. Itulah yang menyebabkan pengguna angaran tak punya cukup waktu untuk melakukan tahapan pengadaan barang dan jasa. Terlebih, proyek-proyek berpagu lebih dari Rp 200 juta, yang harus melalui lelang. “Kebanyakan proyek fisik,” bebernya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Nurbandi mengakui banyak pekerjaan fisik 2014 yang belum terlaksana. Sebagian proyek putus kontrak karena pengembang melakukan wanprestasi. Contohnya, pembangunan gedung Pasar Sleman. Dengan begitu, anggaran yang telah teralokasi harus dikembalikan ke kas daerah. “Ya, harus mulai awal lagi dari lelang tender,” jelasnya.
Nurbandi mengatakan, agar penyerapan anggaran bisa lebih optimal, pihaknya berupaya melakukan perencanaan proyek maju dari jadwal tahun sebelumnya.
Wakil Bupati Yuni Satia Rahayu mengungkapkan, silpa sangat besar bukan lantaran kinerja pemerintah daerah kurang maksimal. Tapi lantaran terkendala petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan pengelolaan anggaran program dari pemerintah pusat. “Waktunya mepet, pembangunan infrastruktur jadi mundur dan tidak berjalan,” bebernya.
Menurut Yuni, petunjuk dari pusat turun pada sepertiga akhir tahun.(yog/din/ong)

Sleman