Alasannya karena Tidak Diperbolehkan Main Games

SANDEN – Komisi D menggelar inspeksi mendadak (sidak) di SDN 2 Sanden, kemarin (16/12). Sidak ini merupakan buntut atas adanya laporan dugaan pengeroyokan yang dilakukan belasan siswa ter-hadap seorang siswa berinisial Sf. Ironisnya, pengeroyokan yang menyebabkan bilur-bilur pada bagian wajah dan tubuh siswa kelas V tersebut terjadi saat proses kegiatan belajar mengajar (KBM) atau dalam ruang kelas.
Saat sidak sejumlah anggota komisi yang membidangi pendi-dikan ini diterima Kepala SDN 2 Sanden Saryana serta sejumlah guru lainnya.Saryana mengakui ada insiden pengeroyokan yang melibatkan anak didiknya pada Selasa (9/12) lalu. “Keesokannya (Rabu) wali murid Sf datang ke sekolah me-laporkannya,” tutur Saryana me-nerangkan kronologi insiden pengeroyokan tersebut.
Kemudian, Saryana mengkroscek kejadian itu kepada guru kelas V. Hasilnya memang terungkap ada insiden pengeroyokan. Lalu, Saryana berinisiatif mengundang seluruh siswa yang terlibat, wali murid dan para guru untuk meng-urai persoalan ini.Usut punya usut, insiden ini terjadi karena siswa berinisial Yg bersama 12 rekannya merasa dendam karena tidak diperboleh-kan main game di komputer milik Sf. “Hampir setiap sore sepulang sekolah mereka ini bermain ber-sama,” urainya.
Apalagi, lanjut Saryana, bekas luka di wajah Sf bukan karena pengeroyokan. Bekas luka itu sudah ada sebelum ada insiden peng-eroyokan. Karena itu, Saryana pun menilai insiden pengeroyokan ini sebagai masalah sepele. Toh, di antara para wali murid sudah ada kesepakatan jika persoalan ini akan diselesaikan secara kekeluargaan. “Namun saat pertemuan pada hari Sabtu pak Sugito (orang tua Sf) berbalik arah akan membawa persoalan ini ke jalur hukum,” ungkapnya.
Ketua Komisi D Enggar Suryo Jatmiko mengkritisi kinerja ke-pala sekolah. Seharusnya pihak sekolah segera menyelesaikan insiden ini atas inisiatif sendiri, bukan malah menunggu adanya laporan dari wali murid. “Yang namanya kepala sekolah kan seharusnya tahu apa yang terjadi di sekolah. Apalagi pengeroyokan ini terjadi saat proses kegiatan belajar mengajar dan di ruang kelas juga ada gurunya,” tegasnya.Senada diungkapkan anggota Komisi D lainnya Supriyono. Dia menilai kepala sekolah terkesan menyepelekan insiden ini. Pada-hal, berdasar hasil visum ada 30 bekas pukulan di bagian wajah dan tubuh Sf.
Kabid SD Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) Bantul Slamet Pamuji menegaskan, pihaknya akan melakukan evaluasi dan pembinaan secara khusus kepada kepala sekolah dan sejumlah guru SD 2 Sanden. Itu karena mereka dianggap lalai. “Kalau terjadi di kelas ini jelas kelengahan guru,” bebernya.Seharusnya, kata Slamet, guru harus mengetahui apa yang terjadi di ruang kelasnya. Sebab, hal tersebut sebagai bagian dari upaya mendidik siswa. “Ini juga termasuk kelalaian saya. Kepada masyarakat Bantul saya me-minta maaf. Semoga hal semacam ini tidak terjadi lagi,” tambahnya. (zam/din/ong)

Sleman