YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
SIMULASI: Relawan Tagana, PMI, dan SAR membantu proses evakuasi warga dalam simulasi penanganan dan kesiapsiagaan warga menghadapi bencana di Girikerto, Turi kemarin (9/12)

Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Bencana

TURI-Kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi bencana terus dilakukan. Itu antara lain dilakukan dengan mela-kukan simulasi, termasuk yang dilakukan untuk warga di wilayah Girikerto, Turi dan sekitarnya kemarin (9/12).Dalam simulasi ini digambarkan status Gunung Merapi mulai siaga. Peningka-tan status dari waspada hanya berselang sehari.
Meskipun terancam bahaya erupsi, warga tetap beraktivitas seperti hari-hari biasa. Bercocok tanam dan beternak kambing. Baru setelah gemuruh muncul dari puncak Merapi, warga mulai tampak panik. Sebagian ibu-ibu rumah tangga berlarian menuju barak pengungsi.
Sementara kaum pria disibukkan membantu lansia, anak-anak, dan membereskan kandang, sebelum menyusul ke barak. Satu orang dinyatakan hilang akibat kericuhan yang terjadi. Meskipun belakangan, korban hilang diketemukan bersembunyi di rumahnya. Relawan Tagana, PMI, dan SAR menumpang mobil masing-masing segera meluncur ke arah utara, mendekati per-mukiman penduduk.
Para lansia dan kaum Hawa diangkut lebih dulu menu-ju barak evakuasai akhir di Balai Desa Girikerto.Beberapa pengungsi mengalami patah tulang kaki akibat terjatuh saat berlarian mencari selamat. Sesampai di barak, para korban segera memperoleh penanga-nan dari tim medis.
Ya, kejadian itu bukanlah kejadian sesungguhnya. Tetapi gambaran dalam skenario simulasi bencana erupsi yang digelar warga Girikerto.
Kades Girikerto Sumaryanto menging-atkan warganya agar selalu waspada an-caman Merapi. Tapi, tidak perlu panik dan tetap beraktivitas seperti biasa. “Paling penting, siapkan surat-surat berharga dan dokumen lain dan perlengkapan lain jika harus mengungsi,” katanya.Kepala Badan Penanggulangan Bencana Derah (BPBD) DIJ Gatot Saptadi mengim-bau agar setiap orang tidak mengandalkan bantuan orang lain pada awal munculnya keadaan tanggap darurat. “Yang utama dalam tanggap kebencanaan, ya, kesiapan masyarakat itu sendiri dalam menghada-pi situasi tanggap darurat,” ujarnya.
Simulai menjadi gambaran sekaligus sarana edukasi bagi warga jika terjadi erupsi Merapi. Dengan begitu, warga di-harapkan memahami sikap dan langkah yang harus dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban. Evakuasi harus dijalankan sesuai prosedur operasional standard, se-perti diajarkan dalam simulasi.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momen pengukuhan Girikerto sebagai desa tangguh bencana (Destana). Pengurus Destana dilantik Wakil Bu-pati Yuni Satia Rahayu usai simulasi. Yuni mengklaim warga Girikerto siap hadapi bencana. Itu berdasarkan pan-dangan mata saat simulasi. Yuni melihat keseriusan dan kesigapan masyarakat, yang menunjukan kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi darurat bencana. “Jalur evakuasi harus dipelihara bersama untuk mempermudah akses kendaraan relawan maupun ambulan,” ungkap Yuni.
Usai dilantik, pengurus Destana Desa Girikerto menandatangani kesepahaman bersama (MoU) dengan Pemdes Girikerto, Pandowoharjo dan Trimulyo (masuk Ke-camatan Sleman).MoU berisi kesepakatan kerjasama penanganan evakuasi korban bencana. Trimulyo dan Pandowoharjo siap menam-pung pengungsi dari Girikerto jika terjadi bencana erupsi Merapi. Sedikitnya 944 kepala keluarga (KK) yang tinggal di ka-wasan terdampak erupsi Merapi di Giri-kerto. Mereka tersebar di Dusun Ngandong, Tritis, dan Sidorejo. (yog/din/ong)

Sleman