BANTUL – Meski telah memasuki triwulan ketiga, serapan APBD Murni 2014 ternyata belum maksimal. Sampai dengan September lalu, serapan APBD baru sekitar 60 persen.
Kabid Akuntansi Dinas Pendapa-tan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPP-KAD) Anas Djauhari mengatakan, akhir-akhir ini pemenang lelang atau pemborong kerap melakukan pengadaan barang dan jasa terlebih dahulu. Biasanya, mereka mengambil biaya setelah proses pengadaan barang dan jasa selesai.
“Mengambil lima persen di awal, kemudian setelah selesai semua baru diambil seratus persen (anggarannya),” terang Anas di ruang kerjanya kemarin (23/10).Akibatnya, pembuatan laporan pengadaan barang dan jasa menumpuk menjelang penutupan anggaran.
Karena itu, Anas menegaskan, serapan APBD sekitar 60 persen hanya pada tataran laporan keuangannya. Ada pun realisasinya melebihi 60 persen dari nilai total ang-garan. “Nilai total belanja APBD Murni 2014 Rp 1,7 tri-liun lebih,” sebutnya.
Belanja APBD Murni Rp 1,6 triliun berasal dari berbagai pos pendapatan daerah, Rp 88 mi-liar lebih dari penerimaan pembiayaan daerah, seperti sisa lebih perhitungan anggaran (silpa) Tahun Anggaran 2013. Itu karena pendapatan selama 2013 defisit.
Alasannya, APBD Perubahan 2014 baru diketok pada pertengahan bulan ini. Anas mengakui penge-tokan APBD Perubahan 2014 cukup terlambat. Idealnya, APBD Perubahan sudah diketok pada awal September. Meski begitu, Anas meyakini serapan APBD Peruba-han 2014 bakal maksimal. Asalkan proses pelelangan tak mengalami kendala. (zam/din/ong)

Sleman