YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
TERAMPIL: Sejumlah siswa menunjukkan kebolehannya mengolah makanan berbahan baku lokal.

Wujudkan Komitmen Membentuk Anak yang Sehat dan Cerdas

Pemkab Sleman berkomitmen membentuk setiap anak yang lahir harus sehat dan cerdas. Berbagai jurus diramu untuk mewujudkan komitmen itu. Apa saja?
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
KECAMATAN Berbah sudah mengawali program khusus ini. Camat Berbah Tina Hastani menginisiasi program ABG (Aku Butuh Gizi). Gerakan sosiali-sasi pentingnya asupan gizi bagi anak di-launching di Pen-dopo Kepanjeng, Kantor Keca-matan Berbah kemarin (22/10). Tina mengatakan, untuk mem-peroleh asupan gizi yang baik, makanan dan minuman yang diberikan ke anak harus sehat.
Selain itu, jajanan tidak sehat di sekolah-sekolah dan kesibu-kan ibu-ibu pekerja yang tak bisa menyiapkan bekal anak menjadi perhatian Tina. Nah, ABG hadir untuk menanamkan kepada anak tentang arti penting gizi bagi kesehatan tubuh, se-kaligus mengurangi risiko akibat konsumsi jajanan sekolah yang kurang sehat. “Kami mendorong pembuatan makanan berbahan dasar lokal,” ujarnya.
Pemanfaatan bahan lokal berar-ti satu kali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Selain makanan dijamin bersih, higienis, dan sehat, para orang tua bisa memanfaat-kan pekarangan rumah untuk ditanami tanaman konsumsi yang mengandung unsur gizi.Gandung, ahli gizi Puskesmas Berbah, mengimbau pihak seko-lah agar membangun kantin yang menjual makanan sehat. Itu guna mencegah siswa jajan di luar dari pedagang kaki lima.
“Jajan sembarangan berarti membiarkan anak-anak teracuni dengan ma-kanan yang mengandung bahan-bahan berbahaya,” ingatnya.Program ABG di Berbah lebih lengkap dengan peragaan demo memasak puding dari daun pepaya oleh siswa SD Klodangan, dibawah asuhan Ratna Prawira dari Kelom-pok Wanita Tani Seruni. Kemam-puan membuat makanan sehat oleh kelompok ini memang tak diragukan, bahkan bisa menjadi teladan. KWT Seruni pernah me-menangkan penghargaan adhi-karya pangan nusantara serta produk inovatif award.
Para siswa juga menampilkan masakan berbahan alami. Se-perti, kolak wortel, kolak daun singkong, nugget tahu, puding bayam merah, dan puding bayam hijau. Semua makanan tersebut tanpa menggunakan bahan te-pung terigu. “Kami siap diundang sebagai narasumber, sekaligus menerima pesanan snack ber-bahan alami,” ujar Ratna.
Ratna menyayangkan, rapat-rapat atau pertemuan di kantor-kantor pemerintahan yang sel-alu menyajikan snack olahan toko-toko roti yang bahan baku-nya terigu (bukan bahan lokal). “Penggunaan bahan lokal oto-matis turut memberdayakan petani untuk mencapai kesejah-teraan,” lanjutnya. (yog/din/ong)

Boks