Somasi dari PT Nonbar tentang Tayangan Piala Dunia 2014
SLEMAN – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ menilai ada kejanggalan atas so-masi yang dilayangkan pihak PT Nonbar selaku pemegang lisensi penayangan Piala Dunia 2014. Ka-rena itulah, PHRI DIJ tidak menutup kemungkinan melakukan legal ac-tion atas somasi tersebut.Pengurus PHRI DIJ Bonny Tello mengatakan, salah satu per-timbangan somasi itu tidak rele-van ketika PT Nonbar menyebut-kan jika beberapa hotel berbintang di DIJ menjadi lokasi semaraknya ajang empat tahunan itu. Padahal, hotel yang tergabung dalam PHRI sendiri tidak memanfaatkan area publik untuk perhelatan tersebut. “Kami menganganggap tuntutan dari somasi itu tidak sesuai,” kata Bonny kemarin (15/9).Nah, buntut dari somasi terhadap beberapa hotel di DIJ itu, Dit Res-krimsus Polda DIJ kemarin meme-riksa ketua PHRI DIJ Istijab Danu-nagoro. Pemeriksaan itu untuk menemukan titik temu antara fakta di lapangan dan isi somasi yang di layangkan pihak PT Nonbar.Bonny menambahkan, baik hotel maupun restoran tidak pernah menggunakan area pu-blik untuk penayangan even. Khusus untuk hotel, setiap kamar bisa mengakses even tersebut. Itu pun tidak disertai dengan atribut Piala Dunia seperti yang disebutkan dalam somasi.Dia menegaskan jika selama penyelenggaraan Piala Dunia 2014 lalu, tidak memiliki penga-ruh signifikan terhadap tingkat kunjungan hotel di DIJ. Artinya, ada kesalahan penafsiran jika even tersebut mendatangkan keuntungan besar bagi penge lola hotel di DIJ. “Pengaruhnya tidak ada. Tingkat kunjungan relatif normal,” imbuhnya.Ya, PT Nonbar mengirim so-masi kepada anggota PHRI DIJ untuk melakukan pembayaran izin penyiaran sepak bola Piala Dunia. Jika tidak dipenuhi, akan dilaporkan kepada pihak kepo-lisian. PHRI menegaskan, seluruh anggotanya tidak melakukan pembayaran atau bernegosiasi dalam bentuk apapun dengan PT Nonbar atau pihak-pihak lain.Penasihat Hukum PHRI DIJ Ariyanto mengatakan, tuduhan PT Nonbar terkait teraksesnya siaran pertandingan Piala Dunia melalui antena teresterial (UHF) di dalam kamar hotel merupakan pelanggaran Hak Cipta yang di-miliki PT Inter-Sport Marketing (PT ISM) selaku pemilik hak siar siaran tersebut untuk wilayah Republik Indonesia. “Di dalam kamar hotel itu tidak merupakan kategori area komersial,” kata dia.Hotel-hotel anggota PHRI DIJ yang dilaporkan, lanjutnya, ham-pir seluruhnya tidak membuat kegiatan atau even nonton bareng siaran pertandingan. Bahkan ada salah satu hotel yang tidak menyiarkan sama sekali. Adapun fasilitas televisi yang terdapat didalam kamar hotel adalah sesuai kualifikasi standar hotel. Selain itu, pada ranah teraksesnya pertandingan piala dunia merupakan tayangan free to air yang didapatkan dari akses stasiun televisi swasta nasional melalui antena teresterial (UHF) yang telah terpasang sejak hotel-hotel itu berdiri. “Berdasarkan Undang-Undang No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, hal ter-sebut merupakan domain publik yang berada pada sistem penyi-aran nasional,” jelasnya.Atas tuduhan Tindak Pidana pelanggaran Pasal 49 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2001 tentang Hak Cipta, yang dituju-kan kepada hotel anggota PHRI DIJ sangat tidak mendasar dan tidak tepat. Hal ini dikarenakan PT Nonbar hanya mendasarkan pada pengertian area komer-sial sebagai unsur pokok pelang-garan hak siar yang sama se-kali bukan termasuk unsur tindak pidana. (fid/din/ty)

Sleman