BANTUL – Area konservasi gumuk pasir menjadi keuntungan tersendiri bagi dunia pariwisata. Bagaimana tidak, selain menjadi objek wisata tersendiri, nuansa padang pasir yang membentang di sepanjang pantai selatan tersebut juga dapat didesain lebih menarik lagi.Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bantul Bambang Legowo berangan-angan ingin menghadirkan nuansa Arab di sekitar area konservasi gumuk pasir. Terlebih, di sekitar area konservasi, tepatnya di kawasan pantai Depok sudah berdiri miniatur Kakbah. “Inginnya menghadirkan tradisi dan nuansa Arab,” terang BL, sapaan akrabnya, kemarin (5/9).
Keberadaan miniatur Kakbah beserta beberapa bangunan lain seperti replika makam Ibrahim selama ini seringnya dijadikan sebagai tempat manasik haji. Dalam setahun sekitar tiga ribu hingga empat ribu jemaah haji asal DIJ biasa melakukan manasik di tempat tersebut. “Kalau menjadi destinasi wisata memang belum,” ujarnya.Berangkat dari kondisi itu, BL berencana mengusulkan pembangunan berbagai sarana bangunan lainnya di sekitar miniatur Kakbah. Nah, bangunan-bangunan itu nanti akan didesain mirip dengan konsep Masjidilharam. “Kemudian di sekitarnya juga ditanami pohon kurma. Saya yakin bisa tumbuh,” ungkapnya.
Ide mengadirkan nuansa dan tradisi Arab ini akan semakin memperkaya wisata tradisi di pesisir selatan Jogja. Sebab, nuansa dan tradisi Hindu serta Tionghoa telah lebih dulu ada. Tradisi Hindu, misalnya, telah ada di salah satu pantai di Gunungkidul. Disamping itu, kata BL, mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam. Sedangkan tak banyak umat Islam yang mampu melaksanakan ibadah haji di Makkah. “Rasa Makkah bisa dirasakan di sini nanti,” tandasnya.BL menyadari butuh anggaran besar untuk merealisasikan proyek tersebut. Tetapi setidaknya anggaran pembangunan bisa disiasati dengan bertahap. Bahkan, jika memungkinkan dapat menggunakan dana keistimewaan. (zam/ila)

Sleman