INSTRUKTUR serangkaian pertunjukan di acara sertijab komandan Lanud Adisutipto memberikan informasi, bahwa penerjun-penerjun TNI AU akan mendarat di lapangan Jupiter.Parasut warna biru dan merah jambu itu diterjunkan dari ketinggian 4.000- 5.000 feet. Dengan kecepatan angin 15 knote, tiga penerjun terjun dengan sempurna di hadapan tamu undangan. Kapten Kes Agus Riyanti, Sertu Mukri, dan Pelda Genot pun langsung mendapat sambutan meriah.Kapten Kes Agus Riyanti, satu dari tiga penerjun menjadi pusat perhatian. Ya, selain sebagai taruni, dia ternyata telah melakukan penerjunan sebanyak 2.433 kali. Angka yang luar biasa untuk sekelas taruni AU.
Riyanti mulai melakukan terjun payung pertama kali pada tahun 1991. Ketika itu masih berpangkat Sersan Dua (Serda).”Persiapan sudah matang. Yang penting kondisi badan kita fit untuk melakukan penerjunan,” kata Riyanti.Meskipun sudah ribuan kali melakukan penerjunan, Taruni asal Purworejo, Jawa Tengah ini mengaku tetap deg-degan. Sebab dia harus mendarat dengan sempurna. Apalagi di depan para petinggi AU dan para tamu undangan lainnya.Bagi perempuan kelahiran 1969 ini, secara teknis tidak ada masalah. Hanya saja dia harus cepat mengetahui di mana titik pendaratan. Dari atas, dia bisa dengan cepat menentukan arah pendaratan dengan dibantu flare warna orange. Kondisi angin saat itu terbilang normal, sehingga dia dengan mudah mengendalikan parasut agar bisa terjun sesuai titik penerjunan.
Pengalaman yang menarik baginya adalah ketika dia harus terjun di laut ketika melakukan aksi terjun payung di Surabaya. Ketika itu laporan yang diterima saat posisi masih di atas, angin berada di kecepatan 15 knote. Ternyata ketika parasut dikendalikan ke bawah, angin semakin kencang hingga mencapai 23 konte. Alhasil dia tak bisa mengendalikan parasut dengan baik sampai akhirnya terjun ke laut. “Faktor cuaca sangat mempengaruhi. Sehingga kita harus cepat membaca berapa kecepatan angin,” tambah perempuan yang menjabat sebagai Danflight Wing Taruni AAU.Selama mendalami terjun payung, Riyanti telah berganti parasut sebanyak empat kali. Ia menuturkan, setiap 500 penerjunan maka parasut harus diganti sehingga faktor keselamatan tetap diutamakan dengan didukung peralatan yang memadai.
Saat ini di AAU ada 30 penerjun yang berasal dari Taruni. Beberapa kegiatan baik di kancah nasional maupun internasional pun pernah diikutinya. Dalam waktu dekat ini, Taruni AAU juga akan terlibat dalam even International Military Sports Council (CISM) di Korea Selatan.Ia berpesan kepada Taruni yang terlibat dalam kegiatan terjun payung agar giat berlatih. Apalagi dalam waktu dekat ini menghadapi even internasional. Dengan tekad membawa nama baik TNI dan bangsa Indonesia, Riyanti optimis bisa mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. (*/din)

Sleman