SLEMAN – Menertibkan pedagang barang-barang bekas (klitikan) nampaknya bak memakan buah simalakama bagi Pemkab Sleman.Buktinya, semakin sering diingatkan bukan tambah sepi. Sebaliknya malah semakin menjamur. Setidaknya, hingga kemarin (3/9), Dinas Pasar Sleman belum sanggup mengatasi keberadaan pedagang klitikan yang berjualan secara no maden di pasar-pasar tradisional. Imbauan petugas tidak digubris pedagang. Sementara di sisi lain belum ada regulasi yang secara spesifik mengatur keberadaan pedagang klitikan. “Belum bisa (diatur). Mau di-pull juga nggak mau. Kami tidak mungkin menjaga setiap waktu,” tutur Kepala Dinas Pasar Tri Endah Yitnani kemarin (3/9).Dinas mencatat, sedikitnya ada 276 pedagang klitikan yang berjualan secara mobile. Pemkab baru berupaya menertibkan pedagang dengan menempatkan mereka pada satu lajur badan jalan. Tetapi, upaya itu tidak berhasil. Bahkan, badan jalan yang digunakan semakin luas dan memanjang.
Ada tiga pasar besar yang menjadi jujugan pedagang klitikan tiap pasaran. Yakni Pasar Cebongan (tiap Kliwon), Pasar Godean (Pon), dan Pasar Sleman ( Pahing). Bisa dipastikan, saat hari pasaran, arus lalu lintas di sekitar pasar tersebut selalu semrawut. Kemacetan terjadi lantaran sebagian ruas jalan dipakai untuk parkir pengunjung. Mereka menggelar aneka barang bekas di dua sisi badan jalan. Kondisi lalu lintas semakin parah akibat banyaknya pengunjung yang enggan memarkir kendaraan (sepeda motor) saat bertransaksi. Mereka hanya menyandarkan motor di depan lapak sambil menawar barang. Akibatnya ruas jalan tersisa semakin sempit. “Sebenarnya kami sudah merintis rencana membuat kantong pedagang kaki lima di Godean,” katanya.
Kantong PKL direncanakan di Lapangan Ahmad Yani. Nah, para pedagang klitikan bakal di relokasi di tempat tersebut. Tetapi itu belum terealisasi karena lapangan belum siap digunakan. Endah mengaku sedang berkoordinasi dengan pemerintah desa di wilayah Mlati untuk membuat kantong PKL Pasar Cebongan.Ismi Sutarti, anggota DPRD Sleman dari daerah pemilihan Mlati menilai, penertiban pedagang klitikan ibarat mengurai benang kusut. Tapi, hal itu bukan tanpa solusi. “Semua tergantung niat dan kemauan pemerintah bagaimana. Khususnya dinas,” sindirnya.
Ismi menegaskan, kemacetan akibat keberadaan pedagang klitikan bisa diminimalisasi. Di Mlati, lanjut Ismi, masih banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk menampung pedagang. Misalnya, di Desa Tirtoadi atau Tlogoadi. “Fungsi jalan itu bukan untuk pasar,” tandasnya.Sumarno,55, penjaja onderdil sepeda motor berdalih nyaman jualan di pinggir jalan karena tak perlu promosi. “Konsumen kami tidak semuanya orang butuh barang. Siapa tahu ada yang lewat, lihat barang. Lalu tertarik beli,” katanya. Bapak dua anak itu khawatir jika lapak digelar di los pasar, dagangan bakal tidak laku.(yog/din)

Sleman