BANGUNTAPAN – Setelah berkali-kali melakukan aksi untuk menuntut hak mereka, akhirnya upaya awak mobil tangki (AMT) Depo Pertamina Rewulu mendapatkan angin segar. Majelis hakim mengabulkan permohonan pihak AMT sebagai tergugat intervensi atas gugatan manajemen PT Pertamina Training and Consulting (PTC) kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Bantul di pengadilan tata usaha negara (PTUN) DIJ kemarin (3/9).Ketua Majelis Hakim A Latif Anshori dalam nota putusan sela menilai pemohon intervensi memiliki kepentingan dalam sengketa sehingga berdasarkan hukum harus dikabulkan. “Hakim menyatakan pemohon intervensi memiliki kepentingan dalam sengketa a quo,” kata Latif.
Sebagaimana diketahui, manajemen PT PTC menggugat Disnakertrans di PTUN DIJ. Itu sebagai reaksi atas keluarnya surat keputusan (SK) tentang penetapan uang lembur bagi AMT. Surat keputusan tersebut diterbitkan Disnakertrans pada 25 Maret lalu.Sebelum pembacaan putusan sela, kuasa hukum manajemen PT PTC Haitami SH mengaku keberatan dengan permohonan pihak AMT sebagai tergugat intervensi. Alasannya, 78 AMT yang dirumahkan masih tercatat sebagai karyawan. “Tetapi semua terserah majelis hakim,” tandasnya.Sementara itu, pihak Disnakertrans selaku tergugat mengaku tidak keberatan. Dengan masuknya AMT sebagai tergugat intervensi justru akan semakin memudahkan majelis hakim untuk mengeluarkan putusan. “Kami siap mempertahankan SK yang kami keluarkan,” tegas perwakilan Disnakertrans Sri Suspriatini.Keputusan majelis hakim ini disambut suka cita 78 AMT yang dirumahkan sepihak oleh manajemen PT PTC. Mereka sabar menunggu proses persidangan di halaman gedung PTUN. “Seharusnya mereka (manajemen PT PTC) mengajukan keberatan ke Disnakertrans. Bukan ke sini. Salah alamat namanya,” tegas kuasa hukum AMT Zam Zam Watoni SH. (zam/ila)

Sleman