PAKEM – Bupati Sleman Sri Purnomo (SP) menyayangkan masih maraknya makanan mengandung zat berbahaya dijual di pasar-pasar tradisional. SP mengetahui hal itu saat melakukan pantauan kesiapan pasar menyambut Lebaran bersama petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Jogjakarta kemarin (17/7). Karena itu, SP menginstruksikan aparat dinas terkait membentuk tim pemantau dan pengawas makanan, demi memberikan rasa aman bagi konsumen. Tugasnya, khusus mengawasi peredaran makanan dan minuman yang diduga mengandung zat-zat berbahaya. Seperti formalin, boraks, rodhamin B, dan methylene yellow. “Sesegera mungkin tim dibentuk. Harapan saya, tim bersifat permanen supaya pengawasan tidak hanya jelang Lebaran saja,” ujar SP usai berkunjung di Pasar Pakem.Saat rombongan bupati dan pejabat dinas berinteraksi dengan para pedagang, petugas BBPOM melakukan uji kandungan bahan makanan menggunakan test kit. Hasilnya cukup memprihatinkan. Sedikitnya dari sepuluh sampel, separo positif mengandung formalin atau rhodamin B.
Di antaranya, mi basah dan kue-kue basah, seperti bolu emprit. Bahkan, petugas juga menemukan kandungan rhodamin di beberapa camilan. Misalnya, kerupuk semprong warna-warni dan “kuping gajah”. Saat itu, SP sempat turut memeriksa makanan serta hasil uji sampling petugas BBPOM. “Mi ini seperti mengandung karet,” ungkapnya sambil mencium mi berformalin. SP lantas mengimbau para pedagang agar berhati-hati saat kulakan produk makanan dan minuman yang diduga mengandung zat berbahaya. Terutama produk yang didatangkan dari luar daerah. Sebab, dari hasil penelusuran BBPOM, di DIJ tak ditemukan produsen makanan yang mengandung bahan berbahaya. “Para konsumen juga harus hati-hati. Beli yang aman-aman saja,” ungkapnya.
Kepala BBPOM Jogjakarta Abdul Rahim menuturkan, mi adalah produk yang tidak awet, sehingga sering dicampur formalin oleh produsen. Menurut Abdul, berdaarkan informasi dari pedagang, mi tersebut didatangkan dari Magelang. “Mi itu sehari sudah basi, makanya harus habis dalam sehari,” katanya.Abdul menjelaskan, tidak semua makanan yang berwarna mencolok selalu mengandung zat berbahaya. Demikian pula sebaliknya. Itulah yang menyebabkan konsumen sulit membedakan secara kasat mata antara makanan sehat dengan yang mengandung rhodamin atau formalin. “Biasanya kalau yang mengkilat itu ada pengawetnya,” paparnya.Menurut Abdul, produsen yang memakai bahan berbahaya bisa atas kesengajaan atau ketidaktahuan. Dia mengimbau agar produsen memanfaatkan zat pewarna alami makanan yang banyak tersedia di toko. “Jangan pakai pewarna kertas atau tekstil, seperti rhodamin. Itu berbahaya,” ingatnya.
Kandungan zat berbahaya pada makanan bisa menimbulkan berbagai penyakit. Salah satunya, kangker.(yog/din)
Melanggar, Izin Pemnfaatan Kios Dicabut.Kepala Dinas Pasar Tri Endah Yitnanai mengatakan, para pedagang yang kedapatan menjual makanan mengandung zat berbahaya bisa dicabut hak pemanfaatan kios atau losnya di pasar. Meskipun si penjual mengaku tak tahu jika dagangannya mengandung zat berbahaya. Setidaknya, penjual tersebut dilarang menjajakan produk serupa di lain waktu.
Ketentuan itu berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2012 tentang Pengelolaan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional. “Kami akan pantau setiap tiga bulan,” ujarnya.Penjual makanan berbahaya yang sudah diperingatkan kemarin dilarang menjual produk serupa. Jika tiga bulan ke depan masih kedapatan menjual produk yang sama, dinas akan memberikan peringatan ke dua. Izin pemanfaatan kios/los dicabut jika sampai peringatan ke tiga pedagang masih melanggar, “Itu berarti mereka (pedagang) mengabaikan, maka kami tindak,” tegas Endah.(yog/din)

Sleman