BANTUL – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bantul menggelar rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara pilpres kemarin (16/7). Secara umum, dalam rapat pleno tidak terungkap kejanggalan pada unsur dasar proses penghitungan suara.Ketua KPU Kabupaten Bantul Johan Komara menyebutkan tiga unsur dasar dalam proses penghitungan suara adalah jumlah surat suara, jumlah pemilih yang hadir, serta jumlah suara sah dan tidak sah. “Kalaupun ada persoalan hanya bersifat administratif,” terang Johan.Persoalan administratif berupa kesalahan input data oleh kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) dan belum diserahkannya formulir keberatan rekap kecamatan kepada masing-masing saksi dan panitia pengawas kecamatan (panwascam). “Tetapi persoalan ini langsung bisa diselesaikan,” ujarnya.
Dalam rapat pleno juga terungkap tingkat partisipasi pemilih dalam pilpres cukup menggembirakan. Setidaknya menembus angka 81,3 persen. Persentasenya lebih tinggi dibandingkan pada pileg lalu. “Angka golput menurun. Kemudian para pemilih pemula juga bertambah,” sebutnya.Hingga pukul 17.00 proses rekapitulasi baru menyelesaikan sembilan kecamatan. Targetnya proses rekapitulasi 17 kecamatan selesai dalam sehari. Setelah itu, hasil proses rekapitulasi suara diserahkan kepada KPU provinsi DIJ.
Anggota KPU Pusat Sigit Pamungkas mengapresiasi proses rekapitulasi penghitungan suara di Kabupaten Bantul. Sebab tidak ada masukan keberatan dari masyarakat. Sebelumnya, lanjutnya, dia juga memantau proses rekapitulasi di sejumlah daerah. Antara lain Banjarmasin, Medan, Sampang, Jambi dan Cirebon. Hasilnya juga serupa. “Elemen dasar rekapitulasi sudah cocok,” tandasnya.Sigit mengakui banyak menemukan kejanggalan data C1 yang di-publish di website. Hanya saja, setelah melakukan klarifikasi terungkap hal tersebut terjadi karena keteledoran penyelenggara pemilu. (zam/ila)

Sleman