SLEMAN – Pemkab Sleman menghentikan aktivitas normalisasi sungai berhulu di Gunung Merapi selama dua pekan. Ketentuan itu berlaku sejak H-7 hingga H+7 Lebaran.Sasaran kebijakan itu adalah berhentinya aktivitas truk pengangkut pasir dan batu yang selama ini cenderung over weight. Truk kelebihan muat hanya bisa berjalan pelan, meski di jalan besar. Tak jarang, arus lalu lintas macet gara-gara truk berjalan lamban.Kepala Dinas Sumber Daya Alam, Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Sapto Winarno mengatakan, aturan pelarangan operasi kendaraan angkutan berat oleh pemerintah pusat sebenarnya berlaku pada H-4 hingga H+4 Lebaran. Tapi, regulasi tentang penambangan disepakati setelah bermusyawarah dengan warga lereng Merapi.
Jika kesepakatan ditaati, arus lalu lintas di jalur alternatif Sleman timur dan jalan-jalan utama pemudik bisa sedikit lega. Itu lantaran sekitar 900 truk pengangkut pasir yang beroperasi setiap hari, untuk sementara harus digarasikan.Kendati begitu, Sapto mengaku tidak bisa melakukan pengawasan secara maksimal di jalur tambang lantaran keterbatasan tenaga. Sapto justru mengimbau warga turut mengawasi jika ada sopir truk yang melanggar aturan. Masyarakat diminya segera melapor ke petugas. Sesuai kesepakatan dengan warga, lanjut Sapto, jika ada penambang tanpa izin akan ditegur langsung oleh mereka.
Penambang manual juga menjadi perhatian pemerintah. Hal ini terkait rekomendasi normalisasi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Jogjakarta. “Jika yang ditambang masih di bagian aliran sungai, tidak masalah. Tapi kalau di bibir sungai atau di kawasan yang dilarang, tentu kami tertibkan,” ujar Sapto kemarin (16/7). Penambang manual yang kedapatan melanggar diminta membuat surat pernyataan bermaterai. ,Kabid Pertambangan Fauzan Darmadi menambahkan, saat ini rekomendasi normalisasi hanya untuk Sungai Boyong di sepanjang perbatasan Purwobinangun-Candibinangun sampai Ngepring di kawasan Turgo, Pakem, serta Sungai Progo di Moyudan. Pemkab telah mengajukan permohonan rekomendasi untuk normalisasi Sungai Gendol sejak Desember 2013. Tetapi, permohonan yang berasal dari usulan warga belum direspon oleh BBWS. “Kalau kami berharap segera ada rekomendasi agar bisa dilakukan penataan,” ujarnya.
Kades Kepuharjo, Cangkringan Heri Suprapto membenarkan adanya kesepakatan tentang penghentian normalisasi. Hal itu disetujui warga demi memperlancar arus lalu lintas selama Lebaran. “Warga sudah sadar, kondisi jalan sekarang susah untuk bepergian karena macet akibat rentetan truk pasir,” katanya.Heri menjamin tidak ada warga yang kecewa atas kebijakan penghentian normalisasi. Sebab, penambang manual untuk konsumsi lokal masih boleh beroperasi. Truk pengangkut dianggap tidak menggangu lalu lintas lantaran hanya beroperasi di wilayah Cangkringan dan sekitarnya. Tidak sampai jalan besar. Menurtu Heri, penambang lokal biasanya menghentikan aktivitas pada H-3 Lebaran. Dan kembali beraktivitas setelah H+7.(yog/din)

Sleman