SLEMAN – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) DIJ melakukan pemantauan produk makanan di lembah UGM. Pemantauan ini sebagai upaya meminimalisasi beredarnya produk makanan berbahaya dan tidak layak konsumsi selama Ramadan ini. Tim melakukan pengecekan satu per satu makanan yang dijajkan di sepanjang jalan. Dari sekian produk makanan yang dijual, tim BPOM DIJ mengambil beberapa sampel makanan dan minuman untuk dicek kandungan bahan-bahannya.
Dari pengecekan itu tim BPOM tidak menemukan bahan berbahaya. “Artinya, pedagang di sini memiliki pemahaman yang baik mengenai produk makanan yang dijual ke konsumen,” kata Kepala Seksi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Dyah Sulistyorini.
Menurut Dyah, selama bulan puasa ini pihaknya telah melakukan pengawasan sekaligus penindakan terhadap produk makanan sejenis yang dijual dibeberapa tempat. Hasilnya, produk makanan tersebut rata-rata mengandung, borax formalin. “Sejauh ini sudah ada tiga tempat. Sampling makanan positif mengandung borax, formalin,” kata Dyah.
Dari beberapa sampling makanan yang diamankan, BPOM DIJ mencatat banyak bahan berbahaya yang digunakan pada pembuatan mi basah, atau bentuk makanan mie kopyok yang mengandung cairan. “Karena permintaan konsumen tinggi, penjual kurang memperhatikan kandungan makanannya,” imbuhnya. Dengan adanya penemuan campuran bahan berbahaya ini, BPOM DIJ semakin mengintensifkan pengawasan. BPOM juga meminta masyarakat agar lebih berhati-hati dalam membeli produk makanan.
Produk makanan berbahaya ini memiliki efek samping jika penggunaan dilakukan secara berkelanjutan. Efek yang paling berbahaya yaitu iritasi kulit. Sedangkan jangka panjang, pernafasan akut dan sistem sirkulasi dalam tubuh bisa terancam. Termasuk ancaman ginjal dan hati dan kematian. “Masyarakat perlu jeli setiap membeli produk makanan,” pesan dia.(fid/din)

Sleman