SLEMAN – Bupati Sleman Sri Purnomo (SP) dan Wakil Bupati Yuni Satia Rahayu membuktikan kekompakannya sebagai pimpinan daerah. Itu mereka lakukan saat memantau jalannya pemungutan suara pemilihan presiden (pilpres) di beberapa tempat pemungutan suara (TPS). Kekompakan itu seolah menjadi jawaban atas keraguan masyarakat soal netralitas dua pejabat publik tersebut. Alasannya, keduanya menjadi tim sukses pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang berbeda. SP menjadi ketua tim pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Sedangkan Yuni adalah relawan Joko Widodo-Jusuf Kalla. “Kalau dua-duanya hadir bareng, kan apik,” komentar Ketua Panwaslu Sleman Sutoto Jatmiko kemarin (9/7).
Pantauan bersama pejabat teras Pemkab Sleman, Bawaslu, dan Forkominda dilakukan di tempat-tempat yang dinilai rawan konflik. Yakni Balecatur, Gamping; Purwomartani, Kalasan; dan Wedomartani’ Ngemplak. Kerawanan yang dikhawatirkan aparat dan masyarakat ini ternyata tidak terbukti. SP menilai, proses pemungutan di beberapa TPS tergolong lancar dan aman. Misalnya, di TPS 14 Ngaran, Balecatur. Antusiasme warga cukup tinggi untuk menggunakan hak pilih. Dari 495 orang yang dalam daftar pemilih tetap (DPT), hingga pukul 11.00 tercatat 343 orang telah mencoblos. Demikian pula di TPS 60, Juwanen, Purwomartani. Hingga tengah siang jumlah pemilih mencapai 80 persen dari total 278 dalam DPT. “Itu menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan hak pilih sudah bagus,” ujarnya.
SP mengimbau warga tetap menjaga situasi aman dan nyaman hingga proses penghitungan suara selesai. Hanya, SP sempat menyayangkan adanya 30 orang peserta Diklat Keuangan Departemen Keuangan yang tidak bisa mencoblos di TPS 60. Mereka harus gigit jari setelah ditolak oleh petugas pemungutan suara lantaran tak memiliki form A 5. Sedangkan KTP yang dimiliki menunjukkan mereka berasal dari luar Sleman. “Padahal mereka sangat antusias guakan hak pilih,” sesal SP usai menemui peserta diklat. SP berharap kedepan ada prubahan regulasi aga seluruh warga Indonesia bisa mengguaka hak pilih dimanapun berada. “Semoga aturan lebih fleksibel. Toh KTP sudah online secara nasional,” harapnya.
Tak henti-hentinya SP mengajak masyarakat untuk mendukung sapapun calon yang menang. Sebab, kemenangan itu adalah pilihan rakyat. Di sisi lain, SP megimbau para pendukung calon yang menang tidak merayakan kemenangan secara berlebihan. Sementaa pendukung yang kalah diminta tidak bersedih dan bertindak anarkis sebagai wujud kekalahannya.(yog/din)

Sleman