BANTUL– Pendirian SPBE (Stasiun Pengisian Bulk Elpiji) milik PT Bumi Purnama Raya yang terletak di Pedukuhan Dukuh, Sabdodadi pada 2009 lalu dinilai banyak terdapat kejanggalan. Indikasinya, penggunaan SPBE tersebut tak sesuai dengan poin-poin yang dipaparkan saat sosialisasi.
“Dulu saat sosialisasi tak ada pemaparan mengenai tangki besar,” terang Wadjiman, perwakilan warga pedukuhan Dukuh usai mediasi dengan Komisi A DPRD Bantul kemarin (17/6).
Dia bercerita saat sosialisasi, SPBE hanya akan digunakan sebagai pengisian tabung gas tiga kilogram langsung melalui truk tangki. Tetapi faktanya di area SPBE juga terdapat tabung penyimpan gas bermuatan 80 ribu kilogram.
“Warga takut karena dapat membahayakan. Apalagi terkadang juga muncul suara gemuruh,” ujarnya.
Disamping itu, lanjutnya, tempat yang digunakan SPBE juga merupakan lahan hijau. Wardjiman mensinyalir ada sejumlah perangkat desa yang sengaja mengambil keuntungan dari pendirian SPBE tersebut. “Ketika SPBE berdiri mereka pasti dapat keuntungan pribadi,” ungkapnya.
Karena itu, warga menolak proses perpanjangan perizinan SPBE di pedukuhan mereka. Mereka meminta SPBE segera direlokasi ke area yang lebih aman bagi penduduk. “Kami sudah tawarkan untuk direlokasi ke daerah Selopamioro (Imogiri),” ulasnya.
Wardjiman menerangkan masa perizinan SPBE telah habis pada Januari lalu. Hanya saja, hingga saat ini SPBE masih beroperasi. “Seharusnya itu kan ilegal,” bebernya.
Kepala Bidang Pendataan dan Penetapan Dinas Perizinan Mujahid Amrudin membenarkan perizinan operasi SPBE telah habis pada awal tahun ini. Saat ini SPBE tengah mengajukan izin perpanjangan. “Saat ini masih tetap beroperasi,” urainya.
Lalu bagaimana dengan penolakan warga? Amrudin menegaskan Dinas Perizinan akan melakukan kajian secara komprehensif. Baik nantinya berupa perpanjangan izin maupun relokasi. “Penolakan warga ini juga menjadi pertimbangan,” ungkapnya.
Ketua Komisi A DPRD Bantul Agus Efendi menyerahkan sepenuhnya persoalan proses perpanjangan izin SPBE kepada sejumlah instansi terkait. “SPBE saat ini dalam status quo,” ucapnya. (zam/ila)

Sleman