Harda Kiswaya sebelumnya pernah menjadi sekretaris Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Pemkab Sleman. Bahkan, selama lebih dari tujuh bulan harus menjalankan fungsi ganda. Sebagai sekretaris, sekaligus pelaksana tugas (plt) kepala Dipenda.
Peran itu dilakoninya per 1 September 2013, sejak jabatan kepala Dipenda kala itu ditinggalkan oleh Samsidi yang pensiun.
Harda dilantik bersama 48 pejabat lain dari eselon 2 dan 4. Dari sisi usia, pria asal Godean itu tergolong masih relatif muda. Bahkan, Harda yang kelahiran 1964 itu tercatat paling muda diantara kepala dinas lainnya.
Di antara rekan sejawat seangkatannya di Pemkab Sleman, Harda menjadi yang pertama menduduki jabatan kepala dinas atau lembaga yang setara. “Ini amanah, harus dijalani dengan sungguh-sungguh,” ujarnya sambil tersenyum usai dilantik oleh Bupati Sleman Sri Purnomo kemarin (24/4).
Layaknya calon pejabat, Harda telah melalui tahapan uji fit and propertest dan assessment, yang menjadi persyaratan wajib. Berbagai kesibukan mengelola lembaga pengampu pendapatan asli daerah (PAD)menjadi salah satu penyebab dia harus menunda proses assessment.
Sementara di pemkab telah terjadi sedikitnya dua kali pelantikan pejabat eselon. Hingga awal 2014 Harda bisa menjalani rangkaian tes calon kepala dinas, hingga dinyatakan layak menduduki jabatan tersebut.
Lima tahun lalu, Harda menjabat kepala bidang pendapatan pada Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD). Jabatannya naik menjadi sekretaris dinas sekitar Mei 2012. Itu seiring pemecahan DPKKD menjadi dua lembaga, mengikuti aturan pemerintah pusat tentang organisasi perangkat daerah. Yakni Dipenda dan Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD). Hingga kemarin, secara resmi Harda dilantik sebagai kepala Dipenda.
Tugas berat dipikulnya demi mendongkrak pendapatan untuk daerah. Harda telah memetakan beberapa hal potensial yang bisa digarap serius sehingga bisa meningkatkan PAD. Sektor kuliner menjadi salah satu bidikannya. “Prinsip memang belum semua diraih. Setidaknya, tahun ini menuntaskan pendaftaran restoran,” ungkap penggemar buku-buku Islami itu.
Kuliner tak hanya berupa restoran, warung-warung makan pinggir jalan pun bisa menjadi penyokong pembangunan Sleman. Selain itu, optimalisasi hotel menjadi target selanjutnya.
Saat ini Harda fokus meningkatkan kualitas data serta potensi daerah berjenis pajak dan retribusi. Dia telah menggandeng perguruan tinggi untuk menelaah potensi tersebut. Di bawah komando Harda, Dipenda juga menjalin kerjasama dengan banyak kantor akuntan publik untuk untuk menguji laporan wajib pajak. (*/din)
 

Sleman