JOGJA – Seniman tidak hanya berkarya dalam bidang seni saja. Mereka juga harus peduli pada bidang lain. Seperti yang dilakukan Jemek Supardi dan Sujud “Kendang’ Sutrisno. Rencana menggelar pentas seni Dwi Tunggal Seniman Jogja, merupakan bukti kepedulian mereka pada kondisi saat ini.lewat pentas seni ini, keduanya menyentil persoalan politik melalui pertunjukan pantomim dan musik.
Pentas ini akan digelar di Tembi Rumah Budaya, Bantul malam ini (4/4). Ditemui di kediamannya di Mergangsan Jogjakarta, Jemek menjabarkan konsep pementasannya. Menurut Jemek, ia sengaja mementaskan seni ini mendekati Pemilu 9 April mendatang.
“Saya sebagai rakyat kecil merasa jengah atas janji-janji para calon wakil rakyat. Banyak yang umbar tapi sedikit yang menepati. Dari situ, saya menggelar pentas Dwi Tunggal Seniman Jogja ini,” ungkap Jemek.
Jemek melanjutkan, perhelatan pesta demokrasi telah membuat bangsa Indonesia kehilangan kewajarannya sebagai manusia. Jemek dan Sujud ingin menyindir calon legislatif yang berambisi meraih kursi kuasanya.
Dalam usaha meraih dukungan dari calon pemilih, caleg cenderung membabi-buta dan menghalalkan berbagai cara. Mereka menebar janji, termasuk ada politik uang. Semua ini akan dikritisi lewat pementasan malam nanti.
Lagi-lagi menurut Jemek, hal ini menjadi pandangan umum untuk menyakinkan caleg layak sebagai pejuang rakyat untuk lima tahun depan. Di sisi lain, Jemek juga menyentil masyarakat sebagai pemilih. Di mana kegiatan seperti seakan sudah menjadi kegiatan transaksional yang wajar.
“Dua-duanya, baik caleg maupun rakyat sudah kehilangan akal sehat. Satunya untuk kepentingan pribadi, satunya untuk kesenangan sementara. Mengajak berpikir dan tidak menjadikan uang sebagai garansi membeli dan memberikan suara,” kritik Jemek.
Pentas ini juga menjadi ajang reuni bagi dua seniman yang jarang berkolaborasi. Jemek akan tampil dengan gaya khas pantomimnya, diiringi banyolan khas Sujud Sutrisno yang dikemas melalui parodi.
Alasan Jemek menggandeng Sujud dalam pentas kali ini juga unik. Sujud Sutrisno merupakan seniman yang tidak mau disebut dirinya sebagai pengamen. Ia memilih menamai dirinya sebagai petugas Pemungut Pajak Rumah Tangga (PPRT).
“Yang dilakukan Sujud selama ini, melakukan pelayanan dulu baru memungut uang. Harusnya pejabat juga demikian, melakukan pelayanan sebaik mungkin dulu terhadap rakyat, baru memunggut pajak,” imbuhnya.
Sebagai seniman Pantomim, Jemek mengajak masyarakat sedikit bicara banyak bekerja. Pentas ini sebagai simbol ajakan agar pejabat di Indonesia banyak bekerja dan sedikit bicara. Mereka harus mampu mengajak warganya memajukan bangsanya.
“Apalagi mengeluh kepada rakyat, itu bukan pimpinan yang pas. Semuanya akan kami kupas besok malam (Jumat, Red),” kata Jemek.(dwi/hes)

Sleman