• Banyak Permintaan dari Luar Daerah

BANTUL – Selama Maret 2014 kemarin, inflasi di Jogja mencapai 0,14 persen. Angka ini lebih besar dibandingkan inflasi Februari yang hanya 0,07 persen. Angka ini juga lebih besar dari inflasi nasional yang hanya 0,08 persen. Salah satu penyebab inflasi Maret lalu, dikarenakan kenaikan harga beras.
“Masa tanam yang mundur, diakibatkan oleh hujan yang berkepanjangan pada dua bulan sebelumnya mengakibatkan mundurnya panen padi yang biasanya terjadi pada awal Maret,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ Bambang Kristianto kemarin (1/4).
Harga beras yang naik hingga 2,46 persen, menurut dia, telah memberikan andil terjadinya inflasi di Jogja sebesar 0,09 persen.Selain itu, faktor lain yang ikut menyebabkan terjadinya inflasi lalu adalah stok bawang putih yang semakin langka di pasaran namun permintaan yang tetap. Hal ini telah menyebabkan kenaikan harga bawang yang cukup tinggi.
Bambang menambahkan, adanya Peraturan Menteri Perhubungan nomor PM2 tahun 2014 tentang besaran biaya tambahan tarif penumpang kelas ekonomi angkutan udara mengakibatkan tarif angkutan udara naik. Hal ini juga memberi andil positif pada kenaikan inflasi Maret 2014. “Ini mengakibatkan tiket angkutan udara pada Maret ini naik,” ungkapnya.
Beberapa komoditas yang harganya turun hingga menahan laju inflasi Jogja antara lain, telur ayam ras yang harganya turun 17,60 persen memberikan andil -0,11 persen pada laju inflasi. Penurunan harga daging, kelapa dan beberapa sayuran juga signifikan menahan laju inflasi Jogjakarta.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ Arief Budi Santoso mengatakan inflasi pada bulan Maret sesuai dengan prediksi tim pemantau inflasi daerah (TPID). Kenaikan harga beras yang cukup tingggi dikarenakan banyak permintaan dari luar daerah.
“Selama Maret ada sejumlah bencana di sejumlah wilayah, sehingga sebagian beras didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan luar daerah, jadi tidak heran kalau harga beras terjadi kenaikan,” ujarnya.
Sementara itu, terkait dengan gelaran kampanye Pemilu legislatif, Arief mengatakan tidak banyak berpengaruh. Pengaruh peningkatan konsumsi masyarakat, jelas dia, akan berpengaruh dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. “Tapi masih harus dihitung hingga akhir kuartal pertama nanti,” ungkapnya. (pra/ila)

Sleman