Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lidah Pem(ng)ikat Bangsa, Angkat Sejarah Akulturasi Kuliner di Indonesia

Editor News • Minggu, 5 Februari 2023 | 00:01 WIB
SEJARAH : Teater Dokumenter sedang berlatih pementasan berjudul Lidah Pem(ng)ikat Bangsa di Galeri PKBY DIJ, Jumat malam (3/2). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
SEJARAH : Teater Dokumenter sedang berlatih pementasan berjudul Lidah Pem(ng)ikat Bangsa di Galeri PKBY DIJ, Jumat malam (3/2). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Teater Dokumenter hadir dengan pertunjukan bertajuk Lidah Pem(ng)ikat Bangsa. Pertunjukan ini menghadirkan sejarah kuliner di Indonesia. Khususnya kuliner yang menjadi wujud akulturasi dengan budaya dari luar Nusantara.

Sutradara Teater Dokumenter Verry Handayani menuturkan ada perjalanan panjang dalam mengemas pementasan ini. Dia dan timnya harus melakukan riset panjang. Baik kepada pelestari kuliner, pakar budaya hingga para tokoh yang mengerti seluk - beluk budaya Nusantara.

"Pada dasarnya karena memang saya suka memasak, tapi lebih dari itu ingin menghadirkan konsep yang berbeda. Terutama tentang sejarah suatu kuliner," jelasnya ditemui di Galery PKBI DIJ, Jumat malam (3/2).

Dalam pementasan ini Verry turut menggandeng Forum Aktor Jogjakarta. Pementasan secara resmi akan berlangsung di Kedai Kebun Forum Jogjakarta pada 10 dan 11 Februari 2023. Lalu berpindah ke Padepokan Seni Mayang Sunda di Jawa Barat pada 17 Februari 2023.
Pada era masa lalu, kuliner tak hanya hadir sebagai santapan.

Verry menceritakan bagaimana berawal dari dapur dan meja makan mengawali sebuah diplomasi. Dia mencontohkan pada peristiwa Konferensi Asia Afrika 1955 yang menyajikan Sate Kambing dan Nasi Rames khas Madura.

Dia lalu berbicara tentang jejak akulturasi di Selat Malaka pada abad VIII. Kala itu pedagang Arab mengambil alih perdagangan rempah. Lalu memasuki abad XVI Portugis membangun pusat dagang.

"Belum lagi pedagang asal Cina yang ikut kapal-kapal mengikuti rute jalur rempah, singgah ke Nusantara mengenalkan kecap, tahu, dan mengolah makanan dengan digoreng. Citarasa Eropa juga melebur dengan selera orang Jawa dalam sepiring selat solo," katanya.

Dalam pementasan kali ini, Teater Dokumenter mengumpulkan beragam sumber. Mulai dari dokumen sejarah, arsip, reportase surat kabar, dan verbatim sebagai sumber utama penulisan cerita.

Untuk kemudian dicerna para aktor, Anggun Oktavia Mei Riasari, Dinarto Ayub Marandi, Muhammad Ramdan, Regina Gandes Mutiary, dan Sulaiman Gumilang.

Para aktor, lanjutnya, berdialog sambil memasak, membicarakan nilai kultural dan implikasi politis dari setiap hidangan. Semakin kuat, karena penonton juga akan mendapatkan kesan visual dan emosional. Juga sensasi aroma masakan dari adegan memasak.

“Mereka menggunakan teknik verbatim lalu personifikasi para narasumber. Ini kami dapatkan dari rekaman video saat kami bertemu narasumber,” ujarnya.

Verry berharap pementasan ini dapat menambah khazanah tentang kuliner Nusantara. Tidak sekadar berbicara santapan namun juga sejarah dan budayanya. Terlebih kisah-kisah dibalik lahirnya sebuah kuliner di Indonesia.

"Harapannya orang yang menonton jadi tahu sejarah kuliner. Bagaimana lahirnya lalu ada cerita apa dibaliknya," katanya. (Dwi) Editor : Editor News
#Kuliner Nusantara #Lidah Pem(Ng)ikat Bangsa #kuliner indonesia #Teater Dokumenter