Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ikut Njathil di Sela Kesibukan sebagai Dokter

Editor Content • Jumat, 28 Oktober 2022 | 17:01 WIB
(Inggar Bagus Wibisana, Dokter, Abdi Dalem Keraton dan Pemain Jathilan)
(Inggar Bagus Wibisana, Dokter, Abdi Dalem Keraton dan Pemain Jathilan)
RADAR JOGJA - Lepas 98 tahun lalu ikrar Sumpah Pemuda diucap. Mengikat kebangsaan yang rela bertumpah darah dan menjunjung persatuan Indonesia. Mereka yang mengawali, kini telah tiada. Tapi semangatnya lestari terwariskan.

Salah satu api semangat yang menyala terang terlihat pada dr Inggar Bagus Wibisana S.Ked AP. Milenial kelahiran Kulonprogo 22 Desember 1995 ini tergerak untuk tetap melestarikan budaya di tengah kesibukan profesinya. “Pada dasarnya saya senang dan cinta budaya. Jadi kalau suka, pasti mau mengupayakan,” ungkapnya saat dihubungi Radar Jogja.

Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini sudah dua tahun bertugas di RS PKU Muhammadiyah Wates. Dia juga menyelesaikan pendidikan Diploma Seni Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta pada 2021. Sejak 2019, Inggar pun telah diwisuda sebagai abdi dalem Keraton Jogja dengan gelar Mas Bekel Puntomatoyo.

“Sumpah Pemuda harus dilakukan dengan menerapkan pemaknaan melalui pilihan yang kita geluti,” tandasnya. Sumpah Pemuda dapat diterapkan Inggar dalam profesinya sebagai dokter. Dia tak boleh pilih-pilih pasien. Dia pun wajib memberikan pertolongan medis sesuai kapasitasnya, bagi siapa pun yang membutuhkan.

Hal yang sama juga dilakukan Inggar sebagai pelaku budaya. Dia mempelajari tari kerakyatan dan keraton. Dia tidak hanya tampil di dalam Keraton Jogja saja, tapi juga terjun ke lapangan, ikut njathil. Ya, dia ikut grup kuda lumping atau jathilan.

“Kita pelajari semua, karena kita semua sama. Kita memperjuangkan apa yang telah diperjuangkan pada pahlawan. Kalau saat ini saya lebih ke budaya yang saya tekuni, tekankan, dan kenalkan ke anak muda. Dalam memaknai Sumpah Pemuda,” ujarnya.

Melalui media sosial (medsos) Instagram, Inggar kerap membagikan aktivitas pada 4.450 pengikutnya. Juga aktif di TikTok. Dia berharap dapat menularkan energi positif terhadap generasi muda. Sekaligus memberi contoh, mengejar profesi bukan berarti menghalangi diri jadi pelestari dan pengabdi budaya.

“Alhamdulillah di Tiktok (unggahan, Red) juga bisa up. Melalui Tiktok dan Instagram, saya mengeduksi pemuda untuk mencintai budaya. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi,” serunya.

Dokter Inggar juga tidak segan mengunggah ulang video atau foto yang menandainya di medsos. Menurutnya, itu merupakan apresiasi bagi pelaku budaya. Dia bahkan berbahagia jika yang melakukannya adalah pelajar.

“Saya senang banyak anak muda yang tergerak melestarikan budaya. Bahkan ada orang tua yang memiliki anak SD atau SMP yang mengatakan, dokter (Inggar, Red) menginspirasi anaknya untuk turut melestarikan budaya,” bebernya.

Lantas, bagaimana Inggar menjaga konsistensinya? Tiga poin penting yang menjadi patokan dia adalah menentukan skala prioritas, komunikasi, dan disiplin. “Manajemen waktu ya kuncinya di tiga poin itu. Jadi tetap bisa menjalani beberapa kegiatan dalam sehari. Mungkin orang melihat saya sibuk sekali dan jarang di rumah. Tapi saya senang melakukannya,” tandasnya. (fat/laz)

  Editor : Editor Content
#Sumpah Pemuda