Ketua Panitia Spatio Temporal #5 Muhammad Alifat Hanani Setioko menjelaskan Spatio Temporal #5 mengusung konsep Adaptive Design Maneuver. Konsep ini berangkat dari keresahan para desainer atas permasalahan manusia yang semakin kompleks dan berdampak pada kehidupan.
Menurutnya, permalasahan baru akan selalu muncul. Sehingga diharapkan permasalahan tersebut dapat dipecahkan dengan inovasi baru, kolaborasi multidisiplin dan peningkatan ilmu pengetahuan.
“Kami memutuskan untuk mengusung konsep Adaptive Design Manuever. Jadi, bagaimana kita beradaptasi, mencari desain-desain yang adaptif tergantung situasi,” jelasnya saat ditemui di Jogja National Museum, Rabu (19/10).
Setyoko menjelaskan 90 karya yang ditampilkan terbagi menjadi 3 kategori. Kategori pertama adalah furniture, yaitu produk-produk mebel. Adapula segmen furnishing, yakni aksesoris interior yang porsinya lebih banyak mengarah ke visual daripada fungsional.
Segmen ketiga adalah equipment, atau aksesoris interior yang lebih banyak porsi karya fungsional ketimbang visualnya.
“Pameran Spatio Temporal #5 ini gabungan. Submittornya ada dari mahasiswa, umum, dan UMKM interior mebel. Sejauh ini kreator dari dalam negeri. Tetapi kalau dari industri beberapa ada yang kolaborasi dan kerja sama untuk meletakkan karya di sini, dan itu rata-rata furniture ekspor,” katanya.
Menggelar pameran desain interior menjadi tantangan tersendiri baginya. Hal ini karena karya diharapkan tak hanya bisa dinikmati dari aspek seninya, tetapi juga memperhatikan aspek fungsionalnya.
Lokasinya yang digelar di galeri pameran juga menjadi tantangan. Biasanya, pameran desain interior digelar di pusat perbelanjaan.
“Ini agak tricky dan kami sangat antusias untuk mencoba. Target kami akan ada seribu pengunjung nanti yang datang,” ujarnya.
Untuk dapat menikmati gelaran pameran Spotio Temporal #5, pengunjung hanya dibanderol tiket masuk seharga Rp 15 ribu. Pameran ini akan digelar hingga 23 Oktober mendatang. (*/isa/dwi) Editor : Editor News