Perhelatan ini menandai anak yang sudah mulai aktif bergerak. Silvia berharap dengan diadakannya acara ini Nathan bisa meraih kesuksesan di masa depan.
“Semoga selalu sehat, bertumbuh berkembang dengan baik. Sehat jasmani dan rohani. Sukses dan segala hal, murah rejeki, dan semua yang baik-baik. Berguna untuk agama, negara, dan masyarakat sekitar,” jelasnya.
ritual tedak siten anak pertamanya. (ISTIMEWA)
Acara diawali dengan sungkeman yang dilakukan oleh Silvia dan Ricky kepada kedua orang tua mereka. Hal ini dilakukan sebagai permohonan restu atas kehidupan Nathan. Selanjutnya, kaki kecil Nathan dibasuh lalu dituntun meniti jadah 7 warna. Jadah yang berwarna-warni menyimbolkan kehidupan yang penuh lika-liku.
Setelah itu, Nathan dituntun meniti tangga dengan harapan kelak ia memiliki jiwa pejuang dan ksatria. Lalu dituntun untuk turun dan memasuki kurungan ayam dimana di dalamnya telah disiapkan berbagai mainan. Sesi ini menunjukkan, anak dapat memilih jalan hidupnya sendiri. Orang tua bertugas mengarahkan dan membimbing agar mencapai kesuksesan.
Setelah selesai, Nathan dimandikan dengan air kembang setaman sebagai simbol jiwa dan raganya yang perlu dijaga kebersihannya. Dengan demikian dapat mengharumkan nama keluarga. Setelah itu, mereka memutari tempat prosesi menggunakan teken ingkung (tongkat ayam utuh).
Selanjutnya, orang tua menyebar udik-udik berisi bunga dan uang logam. Lalu dibagikan pula mainan tradisional dan telur merah kepada para tamu. Rangkaian acara diakhiri dengan pemotongan tumpeng yang kemudian disuapkan ke para orang tua.
Ricky berharap Nathan kelak bisa sukses di masa depan dan patuh dengan orang tua. Ia sendiri merasa perlu menyelenggarakan acara ini karena menurutnya ini budaya yang perlu dilestarikan.
“Saya ingin mengadakan acara ini supaya adat semacam ini tidak hilang,” katanya. (*/asa/dwi) Editor : Editor News