Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gelar Gulung, Jejak Rekam Sejarah Para Penari Jogjakarta

Editor News • Sabtu, 30 Juli 2022 | 21:34 WIB
ARSIP : Pameran Gelar Gulung di Kelas Pagi Yogyakarta menghadirkan arsip-arsip para penari Jogjakarta. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
ARSIP : Pameran Gelar Gulung di Kelas Pagi Yogyakarta menghadirkan arsip-arsip para penari Jogjakarta. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Sanggar Seni Kinanti Sekar mencoba merangkum jejak sejarah para penari Jogjakarta. Wujudnya berupa pameran arsip tari Jogja yang bertajuk Gelar Gulung. Berlangsung hingga 5 Agustus 2022 di Galeri Kelas Pagi Yogyakarta (KPY), Gondomanan, Kota Jogja.

Pameran arsip ini menghadirkan rekam jejak 12 penari Jogjakarta. Mulai dari maestro Bagong Kussudiardja, Wisnu Wardhana, Bimo Wiwohatmo, Didik Nini Thowok, Miroto, Anter Asmorotedjo. Adapula Besar Widodo, Kinanti Sekar Rahina, Megatruh Banyumili, Widi Pramono, Eka Lutfi dan Uti Setyastuti.

"Pemaknaan Gelar Gulung sendiri ialah menggelar kembali arsip-arsip yang telah lama tersimpan, tergulung dalam ruang yang paling privat dan kini siap untuk diperlihatkan," jelas Pimpinan Produksi Pameran Arsip Tari Jogja "Gelar Gulung" #1 Ihsan Kurniawan ditemui di sela-sela pameran, Jumat malam (29/7).

Ihsan menuturkan perlu waktu lama untuk mengumpulkan arsip. Ini karena tidak semua para penari mendokumentasikan setiap karyanya. Alhasil berburu melalui orang ketiga atau para kolektor.

Hadirnya pameran ini menjadi pustaka bagi para penari Jogjakarta. Terutama bagi penari muda yang mencari referensi seni. Sehingga mampu menginspirasi untuk tetap terus berkarya.

"Terkadang ada penari yang lupa mendokumentasikan karya-karyanya. Padahal ini juga penting sebagai arsip seni. Tak hanya untuk diri sendiri tapi juga referensi seni suatu masa," katanya.

Ihsan memaparkan awalnya pameran akan menyajikan dokumentasi dari Sanggar Seni Kinanti. Namun pasca pertemuan dengan para penari lainnya, tercetus ide yang lebih kompleks. Berupa kehadiran arsip-arsip penari lainnya.

Arsip-arsip karya hadir dalam berbagai bentuk. Mulai dari foto dokumentasi, pemberitaan hingga buku. Adapula beberapa perlengkapan tari para penari dalam berkarya.

"Arsip-arsip yang awalnya hanya disimpan dipamerkan dalam pameran ini. Jejak rekam, proses kreatif dan monumen eksistensi, ini bisa jadi ilmu bagi semua orang terutama para penari muda," ujarnya.

Ketua Sanggar Seni Kinanti Sekar Bagas Arga Santosa menuturkan pameran arsip tidak kalah penting dari karya. Dari setiap arsip dapat menjadi refleksi karya para penari. Mampu menghadirkan refleksi proses belajar dari awal hingga titik terkini.

Melalui pameran ini, Bagas mengajak para seniman sadar akan pentingnya arsip. Tak sekadar dokumentasi tapi juga jejak rekam berkarya. Tak hanya bagi personal tapi juga publik dalam melihat proses sebuah karya.

"Dokumentasi dan pengarsipan setiap proses kreatif yang dilakukan karena setiap peristiwa dalam proses penciptaan merupakan hal yang unik dan penting, maka harus disimpan dengan baik. Arsip adalah catatan yang hidup dimana setiap koreografer menitipkan jejaknya agar dapat dibaca oleh zaman," katanya. (Dwi) Editor : Editor News
#Bagong Kussudiardja #didik nini thowok #Sekar Kinanti #sanggar seni kinanti sekar #kelas pagi yogyakarta