Abad ke-20 kemudian menjadi tolok ukur dari kehidupan industri Palembang. Pada sektor pariwisata, ditemukan berbagai hotel dengan akomodasi yang begitu baik. Beberapa hotel tersebut di antaranya: Hotel Emma (1891), Hotel Ratu Wilhelmina (1902), Hotel Palembang (1912), Hotel Joling atau Hotel Schwartz (1923), hingga hotel-hotel baru yang kini bermunculan.
Disisi lain, industri pariwisata kota Palembang didukung pula dari sektor kuliner. Komoditi Kopi Palembang menjadi satu produk yang terus mengalami eskalasi permintaan sejak tahun 1711. Pemerintah Hindia Belanda turut memiliki andil dalam penjualan ini. Sementara itu, pempek yang menjadi makanan khas rupanya merupakan produk akulturasi budaya yang banyak dipasarkan pada awal tahun 1900an oleh masyarakat keturunan Tionghoa.
Kuliner pempek kemudian menjelma menjadi komoditi legendaris dari kota ini. Pada sektor busana, songket asal Palembang tidak ubahnya membius para penikmat fasyen. Songket Palembang mulanya berasal dari sutra, dan telah diproduksi sejak abad ke-8. Industri songket kemudian bertumbuh sebagai kain khas dari kotapraja ini.
Balwana van Palembang selanjutnya membawa para pengunjung untuk menikmati kilas balik kota maritim ini. Peradaban maritim sebagai titik mengawali sejarah kota ini, kemudian pertumbuhan industri yang memberi perubahan pada fasad dan sudut kota ditampilkan sebagai sebuah refleksi.
“Pariwisata menjadi garda depan dan sektor penting dalam roda perekonomian di Kota Palembang. Oleh karena itu Kota Palembang terus berbenah dalam bidang pariwisata agar para wisatawan selalu nyaman berada di Kota Palembang dan bersinergi Bersama Kota Jogja," jelas Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang Sulaiman Amin.
Pameran Pariwisata dan Kartu Pos Balwana van Palembang berlangsung dari 2 hingga 6 Juni 2022 di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Tak sekadar seni dan budaya, pameran ini juga upaya mempererat hubungan kedua daerah. Tepatnya Kota Palembang dan Kota Jogja.
“Langkah terobosan untuk mempererat antar kota khususnya Kota Palembang dan Kota Jogja. Menjadi silaturahmi antar kota khususnya pelaku pariwisata Kota Palembang dengan Kota Jogja," kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Jogja Wahyu Hendratmoko.
Layaknya kartu pos ialah benda yang dikirimkan kepada seseorang yang istimewa. Begitu juga Kota Palembang memilih Kota Jogja menjadi tempat untuk bersilaturahmi dalam bidang pariwisata. Ini karena Kota Jogja menjadi potensi wisatawan yang ingin berkunjung ke Kota Palembang.
“Selain Kopi menjadi komoditas di Sumatera Selatan khususnya Kota Palembang, Kopi menjadi sajian dalam pameran ini," ujar Koordinator Jejak Kartu Pos Uul Jihadan.
Pameran Balwana van Palembang ini atas dasar antara Dinas Pariwisata Kota Palembang, Dinas Pariwisata Kota Jogja, Jejak Kartu Pos, dan Bentara Budaya Yogyakarta. (Vis/Dwi) Editor : Editor News