Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pelestarian Wayang dengan Ranting Daung Singkong

Editor News • Rabu, 20 April 2022 | 22:51 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Upaya pelestarian wayang berlangsung dengan berbagai cara. Salah satunya dengan media ranting daun singkong. Dengan keterampilan khusus, untaian ranting bisa disulap menjadi bentuk wayang kulit dan wayang golek.

Inilah yang coba dihadirkan oleh sejumlah pemerhati budaya di Jogjakarta. Berupa workshop pembuatan wayang ranting daun singkong. Bertempat di Plaza Ngasem Tamansari, Rabu (20/4).

"Wayangnya sederhana, yang pasti orang bisa berimajinasi ini adalah sebuah wayang. Imajinasi tentang wayang penting untuk anak. Harapannya mengakrabkan kembali anak-anak atau kita dengan budaya kita," jelas peserta workshop Hangno ditemui di Plaza Ngasem Tamansari, Rabu (20/4).

Pemilihan ranting singkong, menurutnya juga sangat sederhana. Berupa pemanfaatan barang atau benda yang ada di sekitar. Hingga akhirnya dapat menjadi benda dengan nilai seni dan budaya.

"Dekat dengan kehidupan sehari-hari di lingkungan bisa kita dapatkan. Ingin menghidupkan aktivitas anak-anak dalam mengenal budayanya khususnya wayang," katanya.

Kreator wayang suket Jantan Putra Bangsa menilai ranting daun singkong mudah didapat. Tapi disatu sisi juga cenderung lebih rapuh. Apabila tak hati-hati maka bisa patah.

Jantan menuturkan pembuatan wayang suket idealnya dengan rumput atau suket mendong. Bahan baku ini lebih lentur, kuat dan awet. Sehingg ideal menjadi bahan baku wayang.

"Mudah didapat tapi mudah patah bahannya. Kalau pemilihan bahan masih muda mudah patah, lalu kalau tua lentur. Juga sulit jadi ikatan kuat karena mudah rapuh. Tapi tekniknya mirip sekali dengan wayang suket," ujarnya.

Disatu sisi bahan ini juga memiliki nilai positif. Berupa edukasi ekologi agraris bagi anak-anak. Dengan memanfaatkan barang yang ada dengan semangat kreativitas.

Lebih jauh, Jantan mengamini bahwa wayang ranting daun singkong tidak bisa menyamai wayang kulit maupun wayang golek. Ini karena sifatnya sebagai permainan anak. Caranya dengan mengimitasi lalu mewujudkan dalam wayang sederhana.

"Pesan budaya, kita ingin wayang dikenal dan dimainkan oleh banyak orang, tidak harus orang yang menekuni wayang. Semua orang berhak atas wayang. Silakan eksplorasi dengan bahan dengan kegiatan yang ingin dicapai," katanya.

Kondisi pelestarian wayang di Indonesia, lanjutnya, menunjukkan tren positif. Terbukti dengan meningkatnya minat belajar seni pedalangan. Baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi.

"Sudah lestari diakui UNESCO, banyak museum wayang, dalang mulai digemari , pertunjukan wayang tidak pernah mati. Regenerasi bagus terbukti jurusan pedalangan masih ada peminatnya.nlalu sekolah-sekolah dalang anak juga ada peminatnya," ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News
#wayang golek #wayang suket #seni tradisi #wayang daun singkong #wayang kulit #Jantan Putra Bangsa