Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Di Balik Grebeg Syawal, Tradisi Keraton yang Sarat Nilai Simbolik

Bahana. • Sabtu, 21 Maret 2026 | 08:10 WIB

Warga berebut gunungan saat grebeg Syawal yang digelar Kraton Jogjakarta di Halaman masjid gedhe Kauman, Jogja, Sabtu (22/4). Tradisi grebeg syawal merupakan rangkaian peringatan idul fitri 1444 H. Dalam grebeg kali ini digelar secara terbuka setelah 3 ta
Warga berebut gunungan saat grebeg Syawal yang digelar Kraton Jogjakarta di Halaman masjid gedhe Kauman, Jogja, Sabtu (22/4). Tradisi grebeg syawal merupakan rangkaian peringatan idul fitri 1444 H. Dalam grebeg kali ini digelar secara terbuka setelah 3 ta

Lebaran di Indonesia sering kali dipersempit pada praktik-praktik privat seperti mudik, ketupat, dan silaturahmi keluarga.

Padahal, di Yogyakarta, Idulfitri juga hadir sebagai peristiwa budaya publik yang sarat makna simbolik.

Salah satunya adalah Grebeg Syawal, tradisi yang mempertemukan agama, kekuasaan, dan masyarakat dalam satu momentum perayaan.

Grebeg Syawal merupakan upacara adat yang digelar setiap 1 Syawal oleh Keraton Yogyakarta. Tradisi ini ditandai dengan arak-arakan gunungan, yakni susunan hasil bumi yang dibentuk menyerupai gunung dan kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Sekilas, Grebeg Syawal tampak seperti pesta rakyat. Namun, ia sejatinya adalah ritus simbolik yang merepresentasikan hubungan antara penguasa dan rakyat dalam bingkai religius.

Secara historis, Grebeg Syawal berakar dari proses penyebaran Islam di Jawa yang tidak meniadakan budaya lokal.

Keraton berfungsi bukan hanya sebagai pusat kekuasaan politik, tetapi juga sebagai otoritas simbolik dan religius. Melalui gunungan, sedekah diwujudkan dalam bentuk yang konkret dan mudah diakses rakyat.

Dimensi simbolik makanan dalam Grebeg Syawal sejalan dengan temuan Journal of Ethnic Foods, yang mencatat bahwa hidangan dan ritual Lebaran di Indonesia berkembang dari sejarah panjang perjumpaan antara agama, budaya, dan struktur sosial.

Makanan Lebaran, termasuk hasil bumi dalam gunungan, tidak semata bersifat konsumtif, melainkan menjadi medium ekspresi identitas, solidaritas, dan ingatan kolektif masyarakat.

Puncak Grebeg Syawal terjadi saat gunungan diperebutkan warga. Hasil bumi yang diperoleh dipercaya membawa berkah bagi kehidupan sehari-hari.

Perebutan ini kerap dipahami secara keliru sebagai tindakan chaos, padahal ia merupakan ritus kolektif yang telah dilembagakan secara kultural. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, melainkan subjek aktif dalam simbol pembagian kesejahteraan.

Di tengah modernitas dan pariwisata budaya, Grebeg Syawal berada di persimpangan antara sakralitas dan tontonan.

Meski demikian, tradisi ini tetap bertahan karena masih dimaknai sebagai ruang perjumpaan antara agama, budaya, dan harapan sosial.

Grebeg Syawal menunjukkan bahwa Lebaran bukan sekadar perayaan personal, melainkan juga arena budaya tempat nilai berbagi dan kebersamaan terus dinegosiasikan.

Penulis: Ferry Aditya

Editor : Bahana.
#lebaran 2026 #Yogyakarta #Grebeg Syawal #Keraton Yogyakarta