Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Tradisi Rambu Solo, Upacara Adat Toraja yang Sempat Disinggung Pandji Pragiwaksono

Magang Radar Jogja • Rabu, 11 Februari 2026 | 18:25 WIB
Tradisi Upacara Adat Rambu Solo.
Tradisi Upacara Adat Rambu Solo.

RADAR JOGJA - Polemik materi stand-up comedy yang menyinggung tradisi masyarakat Toraja akhirnya harus mewajibkan Pandji Pragiwaksono untuk memenuhi hukuman adat Toraja.

Pada hari Selasa (10/2/2026), komika tersebut hadir langsung di Tongkonan Layuk Kaero, Tana Toraja, untuk menjalani sidang adat yang dihadiri oleh 32 perwakilan tokoh adat Toraja.

Hukuman adat ini merupakan buntut dari candaan Pandji mengenai tradisi upacara pemakaman Rambu Solo, yang dinilai tidak menghormati kesakralan dari tradisi masyarakat Toraja tersebut.

Lantas, sebenarnya seberapa penting dan sakral makna dari tradisi Rambu Solo bagi masyarakat Toraja hingga candaan tersebut bisa memicu reaksi keras?

Memahami Esensi Tradisi Rambu Solo

Rambu Solo merupakan upacara pemakaman adat dari masyarakat Suku Toraja sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada leluhurnya.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, tradisi ini bukan sekadar menguburkan jenazah, melainkan menyiapkan tempat peristirahatan terakhir yang layak layaknya sebagai sebuah "rumah".

Tradisi upacara pemakaman ini dikenal membutuhkan biaya yang besar, jadi selama dana belum terkumpul, jenazah tidak langsung dimakamkan.

Tubuh jenazah akan tetap dirawat dan diperlakukan seperti orang yang masih hidup, dimana keluarga terus menyediakan makan dan minum di tempat peristirahatannya.

Hal ini dikarenakan biaya yang dibutuhkan untuk menggelar tradisi upacara Rambu Solo sangatlah besar, sehingga keluarga membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan dana.

Bahkan, bagi kalangan menengah ke bawah, jenazah seringkali diletakkan di atas atap atau tempat khusus sembari menunggu dana untuk upacara pemakaman terkumpul.

Sejarah dan Makna Filosofis Tradisi Rambu Solo


Secara historis, Rambu Solo adalah warisan leluhur yang berakar dari kepercayaan kuno Aluk Todolo yang sudah ada sejak abad ke-9.

Nama tradisi ini diambil dari gabungan kata "aluk" yang berarti keyakinan, "rambu" yang berarti asap atau sinar, dan "solo" yang bermakna turun.

Jika dimaknai secara utuh, istilah ini merujuk pada upacara atau keyakinan yang dilaksanakan saat matahari mulai turun.

Masyarakat setempat juga kerap menyebut ritual sakral ini dengan istilah Aluk Rompi Matampu.

Tahapan Prosesi Tradisi Rambu Solo


Pelaksanaan tradisi upacara pemakaman ini dilaksanakan melalui beberapa tahap prosesi yang memiliki makna tersendiri di dalamnya.

Berikut adalah rangkaian prosesi yang umumnya dijalankan dalam tradisi Rambu Solo:

1. Persiapan Prosesi Awal

Tahap ini mencakup persiapan berbagai macam hal yang cukup kompleks, mulai dari pembuatan tongkonan kecil untuk jenazah hingga pondok tamu atau lantang.

Keluarga juga harus menyiapkan hewan kurban wajib seperti babi dan kerbau, serta logistik makanan untuk hidangan acara tradisi tersebut.

2. Rante (Prosesi Pemakaman)

Sebelum diarak, jenazah akan dibungkus kain kafan khusus berwarna perak keemasan oleh petugas adat, lalu petinya akan dihias benang emas atau perak.

Setelah itu, jenazah akan diarak keliling desa menggunakan lumbung rumah adat Tongkonan dengan iringan pertunjukan seni khas masyarakat suku Toraja.

Baca Juga: Makin Mewah, Honda PCX160 Meluncur dengan Pilihan Warna Terbaru

3. Maeya (Prosesi Pemindahan Jenazah)

Tahap ini adalah momen pemindahan jenazah dari rumah duka menuju lokasi pemakaman yang biasanya berupa liang di tebing batu.

Pemilihan lokasi di tebing tinggi bukan tanpa alasan, sebab masyarakat percaya semakin tinggi lokasi letak makam, semakin cepat roh mencapai alam baka.

4. Ritual Mantunu (Prosesi Pengorbanan)

Prosesi pengorbanan dilakukan dengan penyembelihan hewan kurban, baik babi maupun kerbau yang disesuaikan dengan strata sosial orang yang meninggal tersebut.

Penyembelihan ini merupakan simbol bakti sekaligus penghormatan terakhir kepada jenazah.

5. Ma’ Popengkalo Alang dan Ma’ Palao

Pada prosesi Ma’ Popengkalo Alang, jenazah kemudian diturunkan ke dalam lumbung atau gua yang telah disiapkan untuk disemayamkan.

Sebagai langkah terakhir upacara pemakaman Rambu Solo, pada prosesi Ma’ Palao, jenazah dimakamkan di tempat peristirahatan terakhir berupa Lakkian.

Dibalik kemewahan dan biaya tingginya, tradisi Rambu Solo adalah upaya dari masyarakat Suku Toraja dalam melestarikan ajaran pendahulu di tengah zaman yang terus berubah.

Prosesi ini juga mempererat ikatan sosial karena pelaksanaannya membutuhkan gotong royong masif dari seluruh lapisan masyarakat suku Toraja.

Dalam memahami makna dari tradisi Rambu Solo ini memang memerlukan sudut pandang dari masyarakat Toraja agar bisa melihat nilai luhur di balik ritual upacara pemakaman tersebut. (Aqbil Faza Maulana)

 

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#pandji pragiwaksono #toraja #tradisi #Mengenal #upacara adat Toraja #rambu solo