JOGJA - Sebanyak 47 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wirogunan, Jogja, membacakan puisi "Menolak Korupsi" di aula lapas setempat, kemarin (15/3). Acara yang digagas komunitas Puisi Menolak Korupsi (PMK) ini sudah berlangsung yang ke-35 kali.
Para narapidana yang didominasi kasus korupsi tanpa malu-malu membacakan puisi menolak korupsi. Acara itu bagian dari Gerakan Puisi Menolak Korupsi, Road Show 37 Jogjakarta yang digagas PMK. Mereka yang ditahan pernah terjerat kasus korupsi, mulai kasus korupsi alat kesehatan, pergola Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja, pembangungan gardu PLN, sampai kasus korupsi tingkat desa.
Koordinator PMK Jogja Edi Pramono mengharapkan, acara ini bukan hanya berguna bagi masyarakat, namun juga para penyair yang selama ini menulis puisi tentang antikorupsi.
Selain itu, dengan mengunjungi langsung ke lapas, para penyair juga bisa melihat sisi lain dari para koruptor. Tidak hanya yang ada di pemberitaan selama ini. "Kita juga butuh feedback agar kami juga lebih berimbang dan objektif," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Wirogunan Zainal Arifin menambahkan, di tempatnya bekerja itu memang menjadi salah satu tempat pembinaan napi yang terjerat kasus korupsi. Setidaknya, ada 43 napi dalam kasus korupsi.
Puji Istina, menjadi salah satu napi korupsi di Lapas Wirogunan yang membaca puisi. Perempuan yang masuk di lapas ini sejak Juli 2012 membaca puisi berjudul "Dari Balik Jeruji" karya Edi Pramono.
Usai membacakan puisi, Puji menuturkan pihaknya sempat terjerat kasus korupsi di Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Ia divonis pengadilan dengan hukuman empat tahun bui dan denda Rp 200 juta atau penjara dua tahun. "Pegawai kelurahan, mana bisa membayar denda itu," ungkapnya.
Menurutnya, puisi yang dibacakan sejumlah orang yang dicap koruptor sebagai pemberitahuan, masih ada ketidakadilan yang terjadi. "Kami terjebak sistem yang diinstruksikan atasan. Mereka yang korupsi miliaran rupiah, mendapat hukuman yang lebih sedikit," keluhnya.
Seorang napi yang juga sempat terjerat korupsi, Pungki Sakuntala, juga ikut membacakan puisi. Puisi yang ia bacakan berjudul "Pernyataan". Ia berharap setelah bebas nanti tidak akan lagi mengulangi perbuatannya yang menyebabkannya masuk penjara. "Ya, tak mau lagi masuk penjara," tandasnya. (riz/laz/ong) Editor : Administrator