Walau banyak yang kini menganggapnya hanya mitos, larangan ini sesungguhnya berakar dari kisah sejarah yang telah hidup berabad-abad lamanya.
Asal mula wewaler ini dikaitkan dengan Perang Bubat, tragedi pada abad ke-14 yang mempertemukan dua kekuatan besar: Majapahit dan Pajajaran.
Kisahnya berawal dari keinginan Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka, putri cantik Raja Sunda.
Niat itu awalnya tulus, sebagai langkah mempererat tali persaudaraan antar kerajaan.
Namun, rencana pernikahan berubah menjadi petaka ketika Gajah Mada, sang patih Majapahit, menuntut agar rombongan Sunda datang sebagai bentuk penyerahan diri.
Merasa kehormatannya direndahkan, kerajaan Sunda menolak.
Pertempuran pun pecah di Lapangan Bubat, dan seluruh rombongan Sunda gugur.
Dyah Pitaloka, dengan kesetiaan dan martabatnya, memilih mengakhiri hidup demi menjaga kehormatan negeri asalnya.
Bagi masyarakat masa lampau, wewaler tersebut merupakan simbol penghormatan kepada leluhur, bukan sekadar pantangan. Kini, makna itu mulai berubah.
Banyak pasangan Jawa dan Sunda justru menjadi lambang persatuan dua budaya besar yang dahulu sempat berseteru.
Sejumlah ahli budaya, termasuk dari Universitas Gadjah Mada, menilai larangan ini sebagai bentuk memori kolektif sejarah, bukan lagi aturan yang mengikat.
Namun demikian, kisah Bubat tetap hidup dalam ingatan budaya, mengingatkan generasi kini bahwa sejarah, seberapa getir pun, selalu meninggalkan bayangan dalam cara manusia memaknai cinta dan kehormatan.
Penulis : Arsy Apriliany Munawaroh