BANTUL - Ki Mujar Sangkerta adalah seniman asal Bantul yang berhasil menciptakan Wayang Mihlenium Wae. Sebuah pertunjukan wayang dari aluminium yang memadukan seni tari, teater, hingga fashion show.
Ki Mujar Sangkerta menyebut, Wayang Mihlenium Wae lahir pada 2009 silam. Bukan sekadar pertunjukan wayang biasa, wayang ini ada yang berukuran hingga 3×15 meter. Terbuat dari pelat logam aluminium yang tidak mudah berkarat dan tahan lama. Aman untuk dimainkan oleh siapa pun, termasuk anak-anak.
“Kalau hanya sekadar pertunjukan wayang seperti biasanya kan kurang diminati anak muda,” jelasnya saat ditemui di rumahnya Senin (30/6).
Baca Juga: Info Pemadaman Listrik Wilayah Yogyakarta Selasa 1 Juli 2025, Berikut Titik Lokasinya
Lewat wayang ini, dia ingin menunjukan pertunjukan yang berbeda dan mudah diterima oleh semua kalangan khususnya anak muda, Maka dia padukan dengan performance art, tari, teater, fashion show, bahkan sulap.
Tak seperti wayang tradisional yang terikat pada pakem, Wayang Mihlenium Wae hadir dengan tiga pakeliran: klasik, modern, dan kontemporer. Dalam versi modern, tokoh-tokoh wayang seperti Gareng tak lagi membawa celurit. Melainkan pistol. Kemudian Petruk, tak memainkan gamelan, tapi gitar listrik.
Baca Juga: Bukan Hanya Enak, Ternyata Telur Ayam Bisa Menjadi Obat Tradisional, Menyembuhkan Luka Secara Alami
Bahkan ada raksasa yang membawa gergaji mesin. Menyimbolkan isu illegal logging dan pemanasan global. Sementara pada versi kontemporer, siapa pun seniman, akademisi, bahkan orang awam bisa menciptakan dan memainkan karakter mereka sendiri.
Pertunjukan Wayang Mihlenium Wae tak pernah membatasi dirinya pada ruang panggung yang mewah dan eksklusif. Justru, seni ini tumbuh dan hidup di ruang-ruang yang tak biasa. Seperti di sawah, kolong jembatan, dan sungai. ”Semua tempat bisa menjadi panggung, dan semua orang bisa menjadi penonton sekaligus pelaku,” tuturnya.
Dari sana, hubungan antara pertunjukan dan masyarakat terjalin lebih erat. Penonton tak hanya datang untuk menyaksikan. Tetapi juga bisa merasakan menjadi bagian dari peristiwa seni itu sendiri.
Bermula dari satu kali pementasan, kini komunitas Wayang Mihlenium Wae sudah menyebar ke berbagai penjuru Indonesia. Bahkan hingga ke luar negeri. Dari 56 orang di awal pertunjukan, kini anggotanya mencapai lebih dari 2.000 orang dari berbagai latar belakang dan usia dari anak usia lima tahun hingga umur dewasa. Beberapa mantan mahasiswa yang pernah terlibat kini membawa konsep ini kembali ke daerah asal mereka, menciptakan komunitas serupa di luar Jogja.
Meski telah tampil di berbagai kota hingga pentas di Australia dan Eropa, Wayang Mihlenium Wae belum pernah mendapat dukungan pemerintah.
“Tapi ya kami maklumi. Kami tidak bisa menuntut lebih,” ujar alumni Jurusan Kriya Logam, Fakultas Seni Rupa, ISI Jogjakarta ini.
Meski demikian, berbagai pertunjukan besar pernah dilakukannya. Mulai dari isu Lubang Ozon dan Pemanasan Global di Jogja Expo Center, Goro-Goro Rocking on The Truck di Malioboro, hingga Nararupa-narapidana di Lapas Wirogunan. Kebanyakan penampilan mengangkat tema isu-isu sosial yang sedang ramai. (cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita