Nama seniman Djoko Pekik mengguncang jagad seni rupa Indonesia. Ya, pada 1998, tepatnya 16-17 Agustus, dia memamerkan karyanya di Gedung Bentara Budaya Yogyakarta (BBY).
Nah, yang lebih menggemparkan lagi, hanya satu karya yang dipamerkan. Dan dalam durasi 24 jam atau sehari semalam saja.
Luar biasa. Pecah, lukisan tuggalnya yang berjudul "Berburu Celeng" itu berpindah tangan seorang kolektor. Fantastis, harga transaksi sebesar Rp 1 Miliar.
"Itulah harga tertinggi sebuah karya seni lukis di Indonesia pada waktu itu," tulis Kritikus Seni Kuss Indarto dalam catatannya berjudul Djoko Pekik: “Saya Tipe Pelukis Kuda Balap, Bukan Kuda Andong! yang dimuat dalam majalah Tong Tjie Lifestyle, tahun 2016 lalu.
Pencapaian tersebut mengalahkan harga karya para seniman maestro, yang lebih senior. Tak hanya itu capaian ini juga telah mengisi jejak penting sejarah seni rupa Indonesia, Seperti Affandi Kusuma, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, Basoeki Abdoellah, dan lainnya. Disebutkan, pada tahun-tahun itu harga karya para maestro itu baru sampai angka ratusan juta rupiah.
Ini menjadi peristiwa penting dan begitu fenomenal. Sebab, berimbas pada dimensi lain dalam dinamika seni rupa di Indonesia.
Pada aspek pasar atau art market misalnya.
Gelombang kenaikan harga karya seni rupa bergerak pelan tapi pasti. Dan efeknya juga bergerak dimana-mana.
Apalagi dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, muncullah booming seni rupa. Saat itu terjadi lonjakan permintaan pasar atas karya seni rupa. Hal ini mengerek harga karya yang kemudian melejit.
Kuss menyebut, faktor penyulut naiknya harga karya tak lain karena krisis moneter (krismon) atau krisis ekonomi mulai tahun 1997. Saat itu kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar menukik tajam. Dari $1 US = Rp 2.000, menukik hingga Rp 17.000.
"Itulah yang membuat para pemilik uang melarikan sebagian dananya untuk berinvestasi, antara lain ke karya-karya seni rupa. Maka, booming pun meledak," bebernya.
Laku Rp 1 miliar! Harga itu pun menjadi patokan yang begitu mengesankan pasar. Artinya, karya seni bukanlah barang murahan yang tidak bernilai investatif.
"Itu pandangan yang terbelokkan ketika menyimak harga karya Djoko Pekik. Maka, kemudian, dalam berbagai sesi lelang di lembaga auction di Indonesia atau di Singapura, Hongkong dan lainnya, harga karya para seniman Indonesia terkatrol tinggi oleh fenomena Berburu Celeng," urai kritikus seni itu.
"Banderol harga atau estimasi awal dengan bilangan miliaran rupiah mulai menghinggapi karya-karya seniman Indonesia lainnya, terutama yang sudah berlevel maestro dan kebetulan sudah wafat," lanjutnya. (mel)