Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jembatan Tembana Kebumen Masih Kokoh meski Dibangun 1871 dan pada 1948 Pernah Dibom

Muhammad Hafied • Senin, 22 Desember 2025 | 12:05 WIB
Penampakan Jembatan Tembana dari dekat. Jembatan yang membentang di atas aliran Sungai Lukulo itu kini dalam proses revitaliasi. (M Hafied/Radar Jogja)
Penampakan Jembatan Tembana dari dekat. Jembatan yang membentang di atas aliran Sungai Lukulo itu kini dalam proses revitaliasi. (M Hafied/Radar Jogja)

 

 

 

KEBUMEN - Pemkab Kebumen sedang melalukan revitalisasi terhadap Jembatan Tembana. Langkah ini menjadi bagian penting agar keberadaan jembatan era Hindia-Belanda itu tampil lebih menarik dan bernilai historis.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kebumen Frans Haidar menyampaikan, Jembatan Tembana dipandang perlu untuk dipercantik. Tujuannya utamanya mengarah pada pelestarian sekaligus penguatan daya tarik wisata daerah.

"Itu salah satu cagar budaya yang kita banggakan. Perlu dirawat dan dilestarikan," ungkapnya kepada Radar Jogja, Minggu (21/12).

Frans mengatakan, tidak ada yang diubah dalam proses revitalisasi jembatan. Tim hanya melakukan pengecatan ulang serta penataan lingkungan di sekitar area jembatan. Upaya ini bertujuan untuk menjaga keaslian bangunan bersejarah.

Di satu sisi pemolesan juga tetap memperhatikan kebutuhan estetika masa kini."Kami tidak rubah bentuk, tidak rubah apa-apa. Hanya cat, supaya lebih estetik," terangnya.

Frans menambahkan, Jembatan Tembana sejatinya tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur penghubung antar wilayah, tetapi juga dapat menjadi ikon baru di Kebumen.

Selain memiliki nilai budaya dan sejarah, keberadaan jembatan ini melalui proses revitalisasi nantinya diharapkan dapat menarik perhatian wisatawan.

Lebih lanjut, dengan wajah baru yang lebih menarik namun tetap mempertahankan nilai sejarahnya, Frans berharap Jembatan Tembana dapat menjadi salah satu destinasi unggulan sekaligus simbol kebanggaan Kebumen.

Dia juga turut mengajak masyarakat untuk ikut menjaga dan merawat aset bersejarah tersebut agar tetap lestari. "Ya, harapan kami bisa jadi ikon," ungkapnya.

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kebumen Arif Priyantoro menjelaskan, Jembatan Tembana memiliki nilai historis cukup tinggi. Berdasar catatan sejarah, jembatan besar yang menghubungkan antara Kutosari dan Pejagoan ini dibangun pada 1871. Jembatan tersebut dirancang oleh Ingenieur Gerrit Agricola Pet, salah satu insinyur publik kolonial.

Sosoknya dikenal terlibat aktif dalam pengembangan jaringan infrastruktur di wilayah Jawa pada akhir abad ke-19. "Sampai sekarang jembatan masih tegak berdiri, meski 1948 pernah dibom," ungkapnya.

 

Secara arsitektural Jembatan Tembana menggunakan sistem lengkung pelana khas arsitektur era kolonial. Jembatan ini terdiri atas tiga bentang utama, dua pilar dan dua abutmen.

Dari segi struktur jembatan di atas Sungai Lukulo ini dibangun menggunakan material batu andesit, batu bata, beton dan besi. Adapun jembatan ini memiliki panjang sekitar 104 meter dengan lebar 6,1 meter dan tinggi 16,5 meter dari dasar sungai.

Arif menyatakan, proses revitalisasi Jembatan Tembana merupakan langkah strategis. Selain memiliki fungsi cukup vital, jembatan ini bernilai sejarah. Menurut dia revitalisasi merupakan suatu kebutuhan karena beberapa struktur bangunan, khususnya pondasi jembatan mulai tergerus aliran air.

Sebagian titik bahkan telah ditumbuhi pohon liar yang akarnya mulai merusak struktur bangunan. "Semoga menjadi motivasi para pemangku kebijakan agar lebih memperhatikan perawatan serta pelestarian cagar budaya atau obyek diduga cagar budaya," ujarnya. (fid/pra)

Editor : Heru Pratomo
#tacb #pemkab #kebumen #Jembatan Tembana Kebumen #kolonial #Frans #cagar budaya #revitalisasi #Disparbud #Sungai Lukulo #dibom