Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenapa Masakan Jawa Cenderung Manis? Yuk Telusuri Sejarahnya!

Magang Radar Jogja • Jumat, 5 Desember 2025 | 00:35 WIB
Ilustrasi wanita zaman dahulu yang sedang memasak.
Ilustrasi wanita zaman dahulu yang sedang memasak.

RADAR JOGJA - Cita rasa manis menjadi ciri khas yang melekat pada masakan Jawa.

Banyak orang menilai bahwa manisnya masakan Jawa merupakan keunikan tersendiri yang tidak ditemukan di daerah lain.

Ternyata karakter manis tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh sejarah, budaya, dan kondisi geografis.

Perpaduan ketiga faktor inilah yang membuat masakan Jawa, khususnya Yogyakarta dan Solo cenderung memiliki rasa yang lebih lembut dan tidak terlalu kuat.

Dalam aspek budaya, masyarakat Jawa terkenal menjunjung tinggi kesopanan dan kelembutan dalam ucapan maupun perilaku sehari-hari.

Filosofi inilah yang terwujud dalam cita rasa masakan Jawa, di mana rasa manis dianggap sebagai simbol keramahan dan keselarasan.

Sebuah peribahasa mengatakan “Wong Jowo iku kudu manis tutur lan panganané” yang menandakan bahwa kelembutan perilaku orang Jawa sejalan dengan karakter masakannya yang cenderung manis.

Jejak sejarah juga memainkan peran besar.

Pada masa kolonial, gula dianggap sebagai barang bernilai tinggi serta menjadi lambang kemakmuran.

Di bawah pemerintahan Belanda, industri gula di Jawa berkembang dengan sangat pesat.

Ketersediaan gula yang melimpah, membuat masyarakat Jawa terbiasa menambahkan gula dalam berbagai masakan, mulai dari gudeg, sayur lodeh khas Jawa Tengah, hingga berbagai macam sambal yang rasanya cenderung manis.

Selain itu, letak geografis Jawa juga menjadi faktor utama terbentuknya cita rasa manis pada hidangannya.

Sejak abad ke-19, wilayah Jawa dikenal sebagai produsen tebu terbesar di Nusantara, sebab didukung oleh kondisi tanah yang subur dan iklim yang cocok bagi pertumbuhan tebu.

Melalui pemahaman jejak sejarah, budaya, serta lingkungan alamnya, kita dapat melihat bahwa rasa manis pada masakan Jawa terbentuk dari proses panjang yang kemudian menjadi identitas kulinernya.

Seperti halnya daerah lain yang mempunyai ciri khas rasanya sendiri, seperti Sumatra dengan rasa pedas-gurih, Sulawesi yang sarat rempah bersantan, Kalimantan dengan pengaruh Dayak-Melayu. (Desfina Citra)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#cita rasa #manis #Budaya #sejarah #masakan jawa