Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Peringati Hari Pahlawan, Mengenal HOS Tjokroaminoto Guru Bangsa dan Penanam Benih Revolusi

Fahmi Fahriza • Senin, 10 November 2025 | 15:25 WIB

 

Makam pahlawan HOS Tjokroaminoto
Makam pahlawan HOS Tjokroaminoto
 

JOGJA - Di momen peringatan Hari Pahlawan 10 November, nama HOS Tjokroaminoto kembali mengemuka sebagai salah satu sosok penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Ia bukan sekadar pemimpin Sarekat Islam (SI), tapi juga seorang guru bangsa yang menanamkan semangat kebangsaan, kesadaran sosial, dan keadilan bagi rakyat.

Sejarawan sekaligus dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rhoma Dwi Aria Yuliantri menyebut, Tjokroaminoto sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam fase awal perjuangan kemerdekaan.

"Di sejarah Indonesia, Tjokroaminoto itu penggerak massa terbesar dan terorganisasi pertama. Belum pernah ada organisasi sebesar SI masa itu, baik dari jumlah pengikut atau metode perjuangannya yang modern," katanya kepada Radar Jogja Minggu (9/11).

Rhoma menuturkan, Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, 16 Agustus 1883. Ia berasal dari keluarga ningrat. Pendidikan dasarnya di sekolah Belanda, dan kelanjutannya di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) Magelang memberinya kemampuan berpikir logis dan berbahasa yang baik, bekal penting dalam membangun kesadaran politik rakyat.

Sebagai pemimpin besar SI, disebutkan bahwa Tjokroaminoto dikenal karena orasinya yang membangkitkan semangat dan menyalakan api perjuangan.

"Tjokro adalah orang yang kuasa menggetarkan kalbu kebangsaan berpuluh-puluh ribu massa. Ia mendidik rakyat lewat politik pergerakan, menyatukan benak dan daya juang orang Indonesia dalam satu pikiran," ungkapnya.

Lebih lanjut Rhoma mengutarakan, kedigdayaan Tjokroaminoto juga membuat pemerintah kolonial Belanda menjulukinya raja Jawa yang tidak pernah dinobatkan.

Dalam konteks personal, Rhoma menyebutkan rumah sederhana Tjokroaminoto di Gang Paneleh VII, Surabaya, menjadi saksi lahirnya banyak tokoh besar bangsa. Di sana, ia menampung sejumlah anak muda revolusioner seperti Soekarno, Musso, Semaun, Alimin, Kartosoewirjo, Darsono, dan Abikoesno Tjokrosoejoso. Mereka belajar, berdiskusi, dan mengikuti Tjokroaminoto ke berbagai kegiatan politik.

 "Anak-anak didik Tjokro datang dari berbagai latar ideologi. Ada nasionalis seperti Soekarno, sosialis-komunis seperti Musso dan Semaun, hingga Islamis seperti Kartosoewirjo. Tjokro membuka ruang belajar bagi semua gagasan," paparnya.

 Dijelaskan, rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, tetapi sekolah kebangsaan. Dari ruang-ruang diskusi di Paneleh, lahirlah para pemimpin dengan pandangan beragam, namun berakar pada cita-cita kemerdekaan yang sama.

 Selanjutnya, Rhoma manyampaikan, salah satu warisan pemikiran terbesar Tjokroaminoto adalah gagasannya tentang Islam dan sosialisme, yang kali pertama diterbitkan pada November 1924. Tjokro melihat bahwa sosialisme sejati tidak bertentangan dengan ajaran Islam, karena keduanya berangkat dari nilai keadilan dan kepedulian terhadap sesama.

 "Menurut Tjokro, benih sosialisme hadir dari kondisi masyarakat yang kacau. Bagi dia, gagasan sosialisme sejati lahir dari perasaan keagamaan yang mendalam. Maka Islam dan sosialisme bisa berjalan beriringan menuju kemajuan budi pekerti rakyat," jelasnya.

Peran Tjokroaminoto juga tak berhenti di tataran politik. Ia juga dikenal sebagai pendidik yang menumbuhkan kesadaran intelektual dan moral di kalangan pemuda. Melalui kursus kader SI yang diadakan di Pakualaman, Jogja, ia menanamkan nilai perjuangan dan pembelajaran lintas ilmu.

 "Tjokro memupuk kualitas kepemimpinan dan membantu membentuk identitas bangsa. Ia mengajar dengan cara yang menyenangkan dan terbuka terhadap berbagai pemikiran," ungkapnya.

Salah satu peserta kursus itu adalah Hamka, yang kemudian mengakui bagaimana ajaran Tjokroaminoto tentang Islam dan sosialisme membuka cara pandangnya terhadap hubungan antara agama dan keadilan sosial.

Lebih dari seabad setelah kelahirannya, ajaran dan keteladanan HOS Tjokroaminoto tetap relevan. Ia menunjukkan bahwa perjuangan bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal gagasan, pendidikan, dan keberanian berpikir lintas batas ideologi. (iza/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Magelang #HOS Tjokroaminoto #OSVIA #Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren #hari pahlawan #Kartosoewirjo #pahlawan