Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Alun-Alun Utara Jogja, Sejarah dan Transformasi Fungsinya dari Masa ke Masa

Meitika Candra Lantiva • Senin, 16 September 2024 | 18:23 WIB
Alun-alun Utara.
Alun-alun Utara.

RADAR JOGJA - Kraton Yogyakarta memiliki dua alun-alun, yaitu Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan.

Kedua alun-alun ini berada di tempat yang berbeda, Alun-alun Utara berada di depan Kraton Jogja, sedangkan Alun-alun Selatan berada di belakang Kraton Jogja.

Alun-alun Utara atau sering disebut Alun-alun Lor merupakan salah satu ikon bersejarah di Yogyakarta, karena berperan penting dalam kehidupan masyarakat dan perkembangan kota.

Alun-alun ini telah menjadi saksi bisu berbagai kejadian penting sejak didirikannya di abad ke-18 oleh Sultan Hamengkubuwono I.

Fungsinya tidak hanya sebagai pusat kegiatan kerajaan, namun juga sebagai kebesaran Kasultanan Yogyakarta.

Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I, adalah sosok yang ahli filsafat dan arsitektur.

Sehingga beliau membuat lanskap tata ruang kesultanan Yogyakarta dengan simbol kaya akan makna.

Ya makna itu dapat dilihat ketika Alun-alun Utara dibangun dan tempatnya disejajarkan dengan sumbu filosofis.

Jika melihat garis imajiner maka akan terlihat lurus sejajar antara Tugu Golong Gilig dan Panggung Krapyak, termasuk Alun-alun Utara ini.

Alun-alun Utara memiliki luar 150 x150 meter, atau total 22.500 meter persegi dengan dua pohon beringin besar terpagar di tengah alun-alunnya.

Karena kaya akan makna, maka keberadaaan Alun-alun Utara patut untuk dijaga bersama.

Oleh karena itu, penting bagi semua orang, untuk memahamai nilai sejarah dan budaya yang telah ada sejak dahulu.

Sejarah dan Fungsinya

Di awal berdirinya, Alun-alun Utara yang bertanah lapang, memiliki fungsi sebagai ruang publik utama di pusat kota yang dikelola oleh Kraton Yogyakarta.

Di masa lalu alun-alun dijadikan tempat penyelenggaraan upacara kerajaan, seperti Grebeg ,yang menjadi perayaan keagamaan dan kekuasaan Kraton.

Lain dari itu, alun-alun juga difungsikan sebagai latihan militer, pertunjukan kesenian, sampai menyambut tamu-tamu penting dari luar kerajaan.

Maka alun-alun ini juga berkonsep sebagai simbol kekuasaan, dimana letak nya berada di pusat kerajaan dan berada di tengah, yang dikelilingi ruang publik dan masyarakat umum.

Di masa penjajahan terutama ketika Belanda tiba, alun-alun mengalami beberapa perubahan dalam penggunaanya.

Belanda menggunakan alun-alun untuk kepentingan mereka sendiri, seperti administratif dan militer.

Meskipun pusat keagamaan dan budaya lokal tetap dilaksanakan, namun Alun-alun Utara dijadikan tempat parade militer atau pamer kekuatan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Meskipun penggunaannya didominan ke Belanda, namun alun-alun masih tetap memiliki peran sebagai ruang publik masyarakat.

Masyarakat dari berbagai kalangan sosial sering tetap berkumpul di alun-alun untuk menikmati hiburan atau sekedar ingin bertemu antar masyarakat saja.

Sehingga Alun-alun Utara tetap menjadi simbol ketahanan budaya Jawa yang mampu beradaptasi oleh perubahan tanpa kehilangan esensi sejatinya.

Setelah masa Kemerdekaan Indonesia, fungsi Alun-alun Utara kian berkembang.

Alun-alun tidak hanya menjadi milik Kraton saja, namun diperuntukkan untuk masyarakat umum juga.

Di masa ini, selain untuk hiburan masyarakat, alun-alun juga digunakan untuk berbagai acara kenegaraan, seperti peringatan hari besar nasional.

Perubahan fungsi ini mengindikasikan tranformasi perubahan dari alun-alun yang awalnya pusat kekuasaan kerajaan menjadi ruang kebebasan bagi masyarakat.

Alun-alun Utara sebagai tempat hiburan bagi masyarakat ini berupa, sepak bola, konser musik, hingga pasar malam yang sering diadakan hingga beberapa decade kedepan.

Ruang ini mulai menjadi bagian dari kehidupan keseharian masyarakat Yogyakarta, dan menghilangkan kesan ekslusif atau khusus yang sebelumnya melekat.

Masa sekarang : Ikon budaya

Meskipun di awal era modern, Alun-alun Utara menjadi salah satu destinasi wisata favorit dan menjadi pusat hiburan dan ekonomi masyarakat, seperti bazar, pasar malam atau sekaten, namun mulai muncul perdebatan mengenai pelestarian nilai-nilai budaya yang ada di tempat bersejarah itu.

Yang kemudian, diputuskanlah untuk merevitalisasi kawasan Alun-alun Utara ini untuk mengembalikan nilai sejarah yang ada didalamnya.

Dimulai ketika tahun dari pemagaran, lalu menutup permukaan dengan pasir.

Dilansir dari laman kratonjogja.id, alasan Alun-alun utara ditutupi dengan pasir lembut karena memiliki makna penggambaran laut tidak berpantai yang berwujud dari Tuhan yang Maha Tak Terhingga.

Secara keseluruhan makna alun-alun dan pohon beringin di tengahnya adalah gambaran konsep manunggaling kawula Gusti.

Tujuan utama revitalisasi alun-alun ini adalah untuk mengembalikan fungsi tempat ini seperti masa sebelumnya, ketika masa pertama kali pembangunannya.

Adapun revitalisasi Alun-alun Utara adalah bagian dari upaya Kraton dalam melengkapi budaya dan sumbu filosofis yang menjadikan Yogyakarta sebagai Kota Warisan Dunia.

Sepanjang sejarah Alun-alun Utara Yogyakarta, tercermin beragam perubahan sosial, politik, dan budaya dari masa ke masa.

Yang mulanya dari pusat kekuasaaan kerajaan lalu ke ruang publik bagi masyarakat luas, hingga beralih kembali kekeadaan semula.

Dengan tetap mempertahankan identitasnya sebagai simbol budaya jawa di masa adaptasi perubahan tiap zamannya. (Muhammad Affan Himawan)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Yogyakarta #Transformasi #Alun-Alun Utara Jogja #Kasultanan Yogyakarta #Sultan Hamengkubuwono I #fungsi #kraton jogja #sejarah #Panggung Krapyak #Tugu Golong Gilig #masa #Mengenal